Target Baru Donald Trump: Kuba Setelah Iran
SinPo.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya tengah membuka pembicaraan dengan Kuba, setelah sebelumnya melancarkan operasi militer besar terhadap Iran dan menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Dalam pernyataannya di atas Air Force One, Trump menegaskan bahwa Kuba menjadi target berikutnya setelah Iran. “Kuba adalah negara yang gagal. Kuba juga ingin membuat kesepakatan dan saya pikir dalam waktu dekat kami akan segera membuat kesepakatan atau melakukan apa pun yang perlu dilakukan. Kami memiliki banyak orang hebat dari Kuba yang secara kejam diusir dari negara itu, bahkan keluarganya dibunuh,” ujar Trump, Minggu 15 Maret 2026.
Trump menambahkan, “Kami sedang berbicara dengan Kuba, tetapi kami akan menyelesaikan Iran sebelum Kuba. Orang-orang sudah menunggu 50 tahun untuk mendengar cerita ini. Ketika saya meninggalkan Palm Beach hari ini, ada ribuan orang di jalan, mereka dari Kuba dan Venezuela, semuanya ramah, melambaikan bendera Kuba dan bendera Amerika. Mereka sudah menunggu 50 tahun untuk apa yang terjadi dengan Kuba. Jadi saya pikir sesuatu akan terjadi dengan Kuba cukup cepat.”
Sementara itu, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel pada Jumat (13/3) mengumumkan bahwa negaranya membuka pembicaraan dengan AS di tengah krisis ekonomi parah akibat blokade minyak. “Pembicaraan ini ditujukan untuk mencari solusi melalui dialog atas perbedaan bilateral yang ada antara kedua negara,” kata Díaz-Canel melalui media resmi. Ia berharap proses tersebut dapat membawa Kuba menjauh dari konfrontasi.
Hubungan AS–Kuba memang lama diwarnai ketegangan sejak revolusi 1959 yang membawa Fidel Castro berkuasa. Embargo perdagangan ketat diberlakukan sejak 1960-an dan hanya sempat dilonggarkan di era Presiden Barack Obama. Namun, pada 2021 AS kembali menetapkan Kuba sebagai negara sponsor terorisme.
Krisis energi di Kuba semakin parah setelah Venezuela—pemasok utama minyak bagi Kuba—jatuh ke dalam kendali AS pasca penculikan Maduro. Kondisi ini membuat Kuba mengalami pemadaman listrik bergilir dan terhentinya sejumlah jalur penerbangan.
