Trump Ancam Serangan Tambahan ke Kharg Island, Minta Sekutu Kirim Kapal ke Selat Hormuz
SinPo.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan tambahan ke pusat ekspor minyak Kharg Island di Iran dan mendesak sekutu untuk mengirim kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz, jalur vital pasokan energi dunia. Sementara itu, Teheran berjanji akan meningkatkan responsnya.
Dalam wawancara dengan NBC News pada Sabtu 15 Maret 2026, Trump mengatakan serangan AS telah “sepenuhnya menghancurkan” sebagian besar pulau tersebut.
“Kami mungkin akan menghantamnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang,” ujarnya.
Pernyataan itu menandai eskalasi tajam dari Trump, yang sebelumnya menyebut serangan AS hanya menargetkan situs militer di Kharg. Upaya diplomasi pun semakin terhambat, dengan pemerintahannya menepis inisiatif negara-negara Timur Tengah untuk membuka jalur perundingan.
Perang yang dimulai pada 28 Februari oleh AS dan Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar di Iran. Iran menutup Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia, sehingga memicu lonjakan harga energi global dan krisis pasokan terbesar sepanjang sejarah.
Trump menulis di media sosial:
“Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu, dan kami akan membantu; BANYAK!”
Iran menegaskan akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas energinya. Garda Revolusi Iran pada Minggu mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta tiga pangkalan AS di kawasan, menyebutnya sebagai gelombang pertama balasan atas pekerja yang tewas di kawasan industri Iran.
Di Riyadh, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan berhasil menghancurkan 10 drone, meski Garda Revolusi Iran membantah keterlibatan. Sementara itu, operasi pengisian bahan bakar kapal di Fujairah, Uni Emirat Arab, kembali berjalan setelah serangan drone memicu kebakaran pada Sabtu.
Trump juga menyerukan China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Namun, hingga kini belum ada negara yang secara tegas menyatakan kesediaan. Jepang menyebut ambang batas hukum untuk pengerahan militer “sangat tinggi,” sementara Korea Selatan masih meninjau permintaan tersebut. Prancis berupaya membentuk koalisi setelah situasi stabil, dan Inggris tengah membahas opsi bersama sekutu.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan Selat Hormuz harus tetap ditutup.
