Iran Peringatkan Negara-Negara Dunia, Tegaskan Bukti Keterlibatan Basis AS dalam Serangan
SinPo.id - Iran memperingatkan negara-negara agar tidak ikut campur dalam perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Peringatan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan agar kekuatan dunia mengawal kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pihaknya memiliki bukti kuat terkait penggunaan pangkalan militer AS di wilayah negara-negara Arab untuk melancarkan serangan.
“Perang ini akan berakhir ketika kami yakin tidak akan terulang dan ganti rugi telah dibayarkan,” kata Araghchi kepada media berbahasa Arab, Al-Araby Al-Jadeed pada Minggu 15 Maret 2026.
Ia juga mengingat kembali serangan udara Israel selama 14 hari pada Juni tahun lalu yang sempat melibatkan serangan singkat AS terhadap situs nuklir Iran.
Ketegangan di kawasan Teluk telah memicu lonjakan harga energi global hingga 40 persen, setelah Iran mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital yang menyalurkan sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas dunia.
Trump menanggapi dengan meminta negara-negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal pengawal. Namun, sebagian besar negara tersebut memberikan respons hati-hati.
Dalam percakapan dengan Menlu Prancis Jean-Noel Barrot, Araghchi memperingatkan agar negara-negara tersebut “menahan diri dari tindakan yang dapat memicu eskalasi dan meluasnya konflik.”
Sementara itu, Inggris menyatakan masih membahas berbagai opsi dengan sekutu, sedangkan Jepang menilai ambang batas hukum untuk mengirim kapal perang sangat tinggi. Korea Selatan menyebut masih memantau pernyataan Trump.
Di tengah retorika keras, kehidupan di Teheran mulai menunjukkan tanda normalisasi. Lalu lintas lebih ramai, sejumlah kafe dan restoran kembali buka, dan pasar Tajrish di utara ibu kota mulai beroperasi menjelang Nowruz, Tahun Baru Persia.
Namun, dampak perang tetap terasa. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan lebih dari 1.200 korban jiwa akibat serangan AS dan Israel, sementara PBB menyebut hingga 3,2 juta orang mengungsi. Pentagon mengklaim lebih dari 15.000 target di Iran telah dihantam. Di Lebanon, Kementerian Kesehatan melaporkan 850 korban tewas akibat serangan Israel dalam dua pekan terakhir konflik dengan Hezbollah.
