Pramono Soroti Nyepi dan Idulfitri yang Berdekatan

Laporan: Sigit Nuryadin
Minggu, 15 Maret 2026 | 17:38 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (SinPo.id/ Dok. Pemprov DKI)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (SinPo.id/ Dok. Pemprov DKI)

SinPo.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri Upacara Melasti menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Pura Segara, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu, 15 Maret 2026. 

Dalam kesempatan itu, dia menyoroti momentum perayaan Nyepi tahun ini yang berdekatan dengan Idulfitri sebagai pengingat pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan di Jakarta.

Pramono mengatakan kehadirannya bersama Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga bertujuan memastikan umat Hindu di Jakarta dapat menjalankan rangkaian ibadah menjelang Nyepi dengan khidmat.

“Pada hari ini, saya bersama Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menghadiri Upacara Melasti sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Kehadiran kami untuk memastikan umat Hindu di Jakarta dapat menjalankan ibadahnya dengan baik, tertib, khidmat, dan penuh sukacita,” kata Pramono.

Adapun upacara Melasti merupakan ritual penyucian diri dalam tradisi Hindu yang dilakukan menjelang Nyepi. Prosesi ini melambangkan pembersihan lahir dan batin dengan cara menyucikan simbol-simbol keagamaan di sumber air.

Menurut Pramono, nilai yang terkandung dalam Melasti mengajarkan manusia untuk menenangkan pikiran, menata hati, serta hidup selaras dengan alam dan sesama.

Dia juga menyinggung perayaan Nyepi tahun ini yang waktunya berdekatan dengan Idulfitri. Menurut dia, dua hari besar keagamaan tersebut memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Hindu dan umat Islam.

“Saya mengajak seluruh masyarakat di Jakarta untuk bersama-sama menjaga keharmonisan, toleransi, dan keberagaman, serta memastikan Jakarta tetap aman, damai, dan kondusif. Mudah-mudahan perayaan Nyepi dan Idulfitri dapat berlangsung dengan baik,” ujarnya.

Pramono turut mengapresiasi berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan rangkaian kegiatan Nyepi di Jakarta. Dia menilai kegiatan budaya dan keagamaan, termasuk parade ogoh-ogoh yang sebelumnya digelar di kawasan Bundaran HI, mencerminkan Jakarta sebagai ruang bersama bagi seluruh umat beragama.

“Sebagai gubernur, saya adalah gubernur bagi semua agama, semua golongan, dan semua kelompok. Komitmen itu akan terus kami jalankan agar Jakarta tetap menjadi kota yang rukun, damai, dan penuh kebersamaan,” kata dia.

Pramono juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu yang menjalankan rangkaian Melasti dan menyambut Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Ia berharap pelaksanaan Catur Brata Penyepian dapat membawa refleksi bagi masyarakat.

“Semoga Catur Brata Penyepian dapat terlaksana dengan baik, sehingga kita semua dapat menjadi manusia yang lebih baik, memulai kembali kehidupan dengan hati yang suci, serta menjaga bumi melalui perenungan diri,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka yang turut hadir dalam acara tersebut mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap rangkaian perayaan Nyepi.

“Saya ingin mengucapkan apresiasi kepada Gubernur DKI Jakarta yang telah mendukung rangkaian persiapan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Hal ini menjadi wujud nyata bahwa kerukunan dan toleransi umat beragama di Indonesia, khususnya di Jakarta, dapat berjalan dengan baik,” kata Isyana.

Dia menambahkan rangkaian perayaan keagamaan yang berlangsung berdekatan tahun ini, mulai dari Imlek, Nyepi, hingga Idulfitri menjadi bukti masyarakat Indonesia mampu menjaga harmoni dalam keberagaman.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI