AS Gempur Fasilitas Militer di Pulau Kharg, Trump Ancam Serang Infrastruktur Minyak Iran

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 15 Maret 2026 | 04:19 WIB
Pulau Kharg
Pulau Kharg

SinPo.id -  Dalam dua pekan pertama perang terbaru di Timur Tengah, serangan udara Amerika Serikat dan Israel menghantam berbagai fasilitas militer serta energi di Iran. Namun, satu lokasi penting sempat luput dari serangan: Pulau Kharg.

Pulau kecil yang hanya sepertiga ukuran Manhattan ini menjadi nadi ekonomi Iran, karena menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah negara tersebut. Setiap hari jutaan barel minyak dari ladang Ahvaz, Marun, dan Gachsaran dialirkan melalui pipa menuju Kharg, yang dikenal sebagai “Pulau Terlarang” karena pengawasan militernya yang ketat.

Pada Jumat, Presiden Donald Trump mengumumkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas militer di Pulau Kharg.

Trump menyebut serangan itu sebagai “salah satu serangan bom paling kuat dalam sejarah Timur Tengah,” dengan target bandara, gudang ranjau laut, bunker rudal, dan infrastruktur militer lainnya.

Menurut pejabat militer AS, serangan tersebut tidak menyentuh fasilitas minyak. Media resmi Iran, Fars, melaporkan lebih dari 15 ledakan terjadi di pulau itu, namun infrastruktur minyak tetap utuh.

Meski demikian, Trump mengancam akan menyerang aset minyak Kharg jika Iran terus menghalangi kapal melintas di Selat Hormuz.

Pentingnya Pulau Kharg

Pulau Kharg memiliki dermaga panjang yang mampu menampung supertanker minyak, menjadikannya pusat distribusi utama. Kapasitas penyimpanan diperkirakan mencapai 30 juta barel, dengan sekitar 18 juta barel saat ini tersimpan di sana.

CIA pada 1984 pernah menyebut fasilitas Kharg sebagai “yang paling vital dalam sistem minyak Iran, dan kelangsungan operasinya sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi Iran.” Bahkan, tokoh oposisi Israel Yair Lapid mengatakan menghancurkan terminal Kharg akan “melumpuhkan ekonomi Iran dan menjatuhkan rezim.”

Dampak Global

Iran menyumbang sekitar 4,5 persen pasokan minyak dunia. Jika fasilitas Kharg diserang, analis memperkirakan butuh waktu berbulan-bulan hingga lebih dari setahun untuk membangun kembali. China, sebagai pembeli utama minyak Iran, disebut akan merasakan dampak paling besar.

Muyu Xu, analis senior Kpler, menilai Iran akan kesulitan membangun kembali karena masih menghadapi sanksi Barat, keterbatasan dana, teknologi, dan keahlian.

Ancaman Eskalasi

Iran telah memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi akan dibalas dengan menghantam fasilitas minyak di kawasan milik sekutu AS. Pasukan Garda Revolusi Islam bahkan mengancam akan “membakar” infrastruktur minyak dan gas regional jika situs energi Iran diserang.

AS sendiri telah mengirim unit marinir tanggap cepat berjumlah 2.500 personel ke Timur Tengah. Mantan Brigjen Mark Kimmitt menyebut langkah itu bisa membuka kemungkinan pendudukan Pulau Kharg.

“Ini bukan lagi sekadar ‘hancurkan militer, hancurkan rezim’, tapi sekarang kita berusaha menghancurkan nadi ekonomi negara ini, berpotensi,” kata Kimmitt.

Jika eskalasi berlanjut, harga minyak dunia diperkirakan akan melonjak tak terkendali.

“Dan pada titik itu, harga minyak akan benar-benar tak terkendali,” tambahnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI