Ketua DPRD DKI Usul Insentif bagi Warga yang Pilah Sampah
SinPo.id - Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin mendorong pemerintah daerah menyiapkan skema penghargaan bagi warga yang aktif memilah sampah dan terlibat dalam kegiatan bank sampah.
Menurut dia, insentif diperlukan agar partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah semakin meluas.
“Harus ada reward and punishment dalam regulasi. Masyarakat yang memilah sampah dan terlibat dalam bank sampah perlu diberikan penghargaan agar gerakan ini semakin masif,” kata Khoirudin pada Sabtu, 14 Maret 2026.
Khoirudin menilai persoalan sampah di Jakarta tidak bisa sepenuhnya ditangani pemerintah. Ia mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk menekan volume sampah yang terus meningkat setiap hari.
Adapun berdasarkan catatannya, produksi sampah di Jakarta mencapai sekitar 8.700 ton per hari. Kondisi tersebut, kata dia, berisiko menimbulkan masalah serius karena sebagian besar sampah masih ditangani dengan sistem penumpukan terbuka (open dumping) di TPST Bantargebang.
“Produksi sampah Jakarta sangat besar. Dengan sistem open dumping seperti di Bantargebang, itu bisa menjadi bom waktu. Kita sudah melihat tiga kali longsor terjadi,” ujar dia.
Selain persoalan di Bantargebang, Khoirudin juga menyoroti munculnya bau di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan. Dari hasil peninjauan di lapangan, dia menyebut bau tersebut salah satunya disebabkan sampah rumah tangga yang masih tercampur dan memiliki kadar air tinggi.
Menurutnya, kondisi itu tidak hanya menimbulkan bau, tetapi juga berpotensi memicu pencemaran dari air lindi di sekitar kawasan Rorotan. Khoirudin meminta penanganan dilakukan secara cepat. Ia juga mengapresiasi sejumlah langkah perbaikan yang telah dilakukan, termasuk penggunaan truk pengangkut sampah tertutup.
“Sekarang truk pengangkutnya sudah tertutup, tidak ada lagi air lindi yang menetes di jalan. Bahkan truk terbaru sudah menggunakan tenaga listrik. Truk lama tidak boleh lagi beroperasi,” kata dia.
Selain itu, truk pengangkut sampah diwajibkan dicuci setelah beroperasi untuk mencegah bau saat melintas di jalan. Khoirudin juga mendorong pengelola RDF mempelajari praktik pengolahan sampah dari negara lain yang dinilai berhasil mengurangi bau.
Dia berharap model pengolahan tersebut dapat diterapkan di Jakarta sehingga pengiriman sampah ke Bantargebang bisa berkurang.
Saat ini, Khoirudin menyebut Pemprov DKI mengeluarkan biaya lebih dari Rp1 miliar per hari untuk pembuangan sampah ke Bantargebang atau sekitar Rp385 miliar per tahun.
Lebih jauh, dia mengungkapkan, DPRD DKI Jakarta juga telah menyetujui pengadaan mesin pemilah sampah “grandong”, mesin rakitan dalam negeri yang mampu memisahkan sampah organik dan anorganik.
Khoirudin juga berharap, mesin tersebut dapat membantu pengolahan sampah di RDF Rorotan sekaligus mengurangi beban di Bantargebang.
“Ke depan kita berharap jumlah sampah yang masuk ke Bantargebang semakin berkurang. Namun yang terpenting, kita semua harus serius menangani persoalan sampah ini,” tandasnya.

