Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran Meski Kondisi Kritis Usai Serangan AS-Israel
SinPo.id - Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru meski kondisinya dilaporkan kritis akibat serangan rudal Amerika Serikat dan Israel.
Laporan The Sun menyebut Mojtaba tengah koma, kehilangan satu kaki, serta mengalami kerusakan serius pada lambung dan hati.
Sumber di Teheran mengungkapkan ia dirawat intensif di Rumah Sakit Universitas Sina, dengan pengamanan ketat. Menteri Kesehatan dan Pendidikan Medis Iran, Mohammad Reza Zafarghandi, yang juga ahli bedah trauma, disebut memimpin perawatan Mojtaba.
Meski kondisi fisik melemah, jaringan televisi negara menyiarkan pesan perdana Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi. Pesan itu berbentuk dokumen tertulis, bukan rekaman suara atau video.
Dalam pernyataan tersebut, ia menegaskan Iran akan terus menutup Selat Hormuz, melanjutkan serangan ke pangkalan AS di kawasan, serta menuntut kompensasi atas serangan yang menewaskan banyak warga Iran.
Mojtaba juga memperingatkan negara-negara Teluk agar segera menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka. “Amerika mengklaim membawa keamanan dan perdamaian, tetapi itu hanyalah kebohongan,” tulisnya.
Ragukan Kepemimpinan
Keraguan publik Iran semakin menguat terkait kepemimpinan Mojtaba Khamenei, yang baru saja ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Hingga kini, Mojtaba belum pernah tampil di depan umum, baik melalui rekaman video maupun foto, sejak pengangkatannya.
Dalam wawancara dengan BBC, seorang perempuan berusia 40 tahun dari Teheran menyatakan bahwa ia tidak percaya pesan resmi yang dibacakan di televisi negara benar-benar berasal dari Mojtaba. “Saya merasa kendali negara ada di tangan IRGC (Islamic Revolution Guard Corps),” ujarnya.
Pesan tertulis yang dibacakan presenter TV pada Kamis lalu menegaskan bahwa Iran akan terus menutup Selat Hormuz, jalur vital yang menyuplai seperlima minyak dunia. Mojtaba juga berjanji tidak akan berhenti membalas darah warga Iran yang tewas sejak perang dengan AS dan Israel dimulai, menyebut serangan balasan sejauh ini baru “sebagian kecil” dari yang akan dilakukan.
Namun, ketidakhadiran Mojtaba di ruang publik menimbulkan spekulasi. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan mengklaim, tanpa bukti, bahwa Mojtaba terluka parah dan kemungkinan cacat akibat serangan udara awal yang menewaskan ayahnya, ibunya, dan saudaranya.
Keraguan ini semakin diperkuat oleh komentar warga yang diwawancarai BBC Persia, yang mempertanyakan siapa sebenarnya yang memegang kendali pemerintahan Iran saat ini.
