Komisi IV DPR Soroti Kerentanan Industri Pupuk Nasional
SinPo.id - Anggota Komisi VI DPR RI Budi Sulistyono Alias, menyoroti kerentanan industri pupuk nasional di tengah dinamika geopolitik global, yang bisa berdampak pada ketahanan pangan nasional.
Pasalnya, ketergantungan impor gas bumi dan mineral dapat mengancam stabilitas fiskal negara. Sedangkan gas bumi menyumbang hingga 80 persen dari total biaya produksi pupuk urea.
"Ketergantungan kita dalam budidaya tadi terhadap komponen impor, termasuk gas," kata Budi, dalam keterangan persnya, dikutip Jumat, 13 Maret 2026.
"Ini sangat mengkhawatirkan apalagi melihat awan-awan geopolitik yang akhir-akhir ini sangat meresahkan kita semua, kondisi ini harus diantisipasi dengan matang," imbuhnya.
Ia pun menyoroti kebijakan pemerintah yang telah meningkatkan volume subsidi pupuk secara signifikan untuk tahun 2025, yakni dari 4,7 juta ton menjadi 9,55 juta ton dengan alokasi anggaran mencapai Rp46,8 triliun.
Menurutnya, tanpa manajemen risiko yang kuat, kenaikan volume ini bisa menjadi beban tambahan bagi APBN jika biaya produksi membengkak akibat faktor eksternal.
"Kita harus menghitung kembali kemampuan APBN kita dengan nilai barang impor yang sangat mahal ditambah kurs dolar yang cukup tinggi, ini akan sangat membebani," ungkapnya.
"Kita tidak ingin peningkatan kuota subsidi ini justru terhambat oleh masalah pembiayaan di kemudian hari karena kita kurang waspada terhadap situasi global," kata Budi menambahkan.
Terakhir, pihaknya mendorong adanya strategi lindung nilai (hedging) dan percepatan efisiensi energi di pabrik-pabrik pupuk guna memitigasi berbagai risiko di tengah ketidakpastian global. Sehingga ketersediaan pupuk bagi petani dapat terjamin.
