Konsumsi Fesyen Muslim 2028 Diproyeksi US$433 Miliar, Menperin: Ini Peluang Strategis Kita

Laporan: Tio Pirnando
Jumat, 13 Maret 2026 | 14:55 WIB
Ilustrasi pedagang baju muslim pasar Tanah Abang. (SinPo.id/Ashar)
Ilustrasi pedagang baju muslim pasar Tanah Abang. (SinPo.id/Ashar)

SinPo.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025, pada tahun 2023 konsumsi fashion muslim dunia mencapai US$327 miliar dan diproyeksikan meningkat sebesar US$433 miliar pada 2028.

Hal ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk masuk menjadi pemain utama industri modest fashion global. 

"Hal ini menunjukkan bahwa industri modest fashion memiliki prospek pasar yang sangat besar dan harus berkembang. Sehingga mampu membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat peran sebagai produsen sekaligus pusat tren modest fashion dunia," kata Agus dalam keterangannya, Jumat, 13 Maret 2026.. 

Agus menilai, proyeksi SGIER tersebut tak terlepas dari derasnya arus informasi di media sosial yang membuat tren penggunaan produk modest fashion kini menjadi lebih inklusif dan tidak hanya terbatas pada penggunaan oleh umat muslim saja.

Dan, potensi industri fesyen muslim atau modest fashio dalam negeri di pasar dunia, juga menunjukkan capaian yang menjanjikan. Hal ini terlihat dari nilai ekspor modest fashion Indonesia ke negara anggota Organization Islamic Cooperation (OIC) pada 2023 mencapai US$ 990 juta.

"Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 83 persen jika dibandingkan dengan tahun 2022 yang hanya mencapai US$ 540 juta, dan hal ini membuat Indonesia menjadi negara tujuh tertinggi ekspor ke negara OIC," ujar Agus. 

Namun, negara yang melakukan ekspor produk fesyen ke negara-negara anggota OIC masih didominasi oleh negara China, Turki dan India. "Ini menjadi tugas semua stakeholder untuk meningkatkan peran Indonesia dalam pasar fesyen muslim dunia," ujarnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menambahkan, Indonesia memiliki potensi industri fesyen yang sangat besar, baik sebagai pasar maupun sebagai produsen. 

"Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemain utama industri modest fashion global dengan sektor industri yang padat karya," ujarnya.

Merujuk data BPS, pada 2024 jumlah industri kecil pakaian jadi berjumlah 594 ribu dengan tenaga kerja mencapai 1,2 juta pekerja. "Modest fashion kini telah berkembang menjadi tren busana global yang tidak hanya diminati oleh masyarakat muslim, tetapi juga berbagai kalangan lintas budaya dan gaya hidup," kata Reni.

Menurutnya, konsep modest fashion terus berevolusi menjadi lebih inklusif, tanpa memandang agama, etnis, maupun preferensi individu. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat modest fashion dunia, didukung oleh kreativitas desainer lokal, kekayaan budaya, serta keberagaman bahan tekstil berkualitas tinggi yang menjadi identitas bangsa.

"Potensi tersebut turut diperkuat oleh capaian Indonesia, yang berdasarkan State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025 berhasil menduduki peringkat pertama dalam ekosistem lokal yang mendukung perkembangan industri modest fashion," ungkapnya.

Sejalan dengan implementasi kewajiban sertifikasi halal nasional, lanjut Reni, mulai Oktober 2026 pemberlakuan sertifikasi halal. Salah satunya untuk produk barang gunaan, termasuk produk fesyen dan modest fashion, menjadi momentum strategis untuk meningkatkan daya saing industri nasional.

"Kebijakan ini tidak hanya memberikan jaminan kualitas, keamanan, serta kepercayaan konsumen, tetapi juga menciptakan nilai tambah (added value) bagi produk modest fashion Indonesia di pasar global," tukas Reni. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI