Usai Mojtaba dikabarkan Terluka
Beberapa waktu usai Mojtaba Khamenei dikabarkan terluka Iran telah menembakkan 300 rudal balistik ke wilayah Israel.
SinPo.id - Konflik bersenjata melibatkan Iran versus Israel yang mendapat dukungan Amerika Serikat semkain tak terbendung. Apalagi Amerika dan Israel dikabarkan terus menyerang Iran, termasuk pemimpin baru pengganti Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei yang dikabarkan terluka di tengah konflik
Laporan terbaru menyebutkan Mojtaba Khamenei, yang merupakan putra kedua almarhum Ayatollah Ali Khamenei, mengalami luka atas serangan udara Israel dan Amerika.
Mojtaba yang baru saja ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Minggu, 8 Maret 2026 digambarkan sebagai “janbaz” istilah yang berarti “terluka oleh musuh”. Bahkan media Iran menyebut luka dari “perang Ramadan”.
Meski laporan tersebut tidak menjelaskan bagaimana ia terluka, setelah sebelumnya istri dan ayahnya tewas akibat serangan udara Israel di Teheran.
Analis dari BBC Persian, Parham Ghobadi, menilai Mojtaba telah mengambil pekerjaan paling berbahaya di dunia karena Amerika dan Israel telah bersumpah untuk menargetkan pemimpin berikutnya. “Mereka mengatakan pemimpin baru Iran akan menjadi target sah untuk pembunuhan,” kata Parham.
Mojtaba, yang belum pernah tampil di depan publik sejak perang dimulai, disebut fasih berbahasa Inggris, pernah menempuh kursus psikologi, serta memiliki pengetahuan tentang teknologi modern, ilmu militer, keamanan, dan prinsip politik.
Pengangkatannya dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran tidak akan mundur di bawah tekanan. Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya pernah menyatakan bahwa ia menginginkan penerus yang “dibenci oleh musuh”.
Sejak protes besar tahun 2009, desas-desus tentang Mojtaba sebagai calon pemimpin sudah beredar di tengah sebagian rakyat Iran memprotes pemerintah Iran.
Kini, sosok yang selama ini dianggap bayangan, tiba-tiba naik ke tampuk kekuasaan di saat paling kritis bagi Iran.
Sedangkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan tidak senang putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.
"Saya tidak senang dengannya,” kata Trump saat diwawancara New York Post, dikutip Selasa, 10 Maret 2026.
Ia juga telah berulang kali memperingatkan Iran agar tidak memilih putra dari Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang telah dibunuh, untuk memimpin negara tersebut seiring meningkatnya konflik AS-Israel dengan Iran.
“Saya tidak akan melalui perang ini hanya untuk berakhir dengan Khamenei yang lain. Saya ingin terlibat dalam pemilihan,” ujar Trump dilansir dari Al Jazeera.
Bagi Trump, Iran telah melakukan kesalahan yang besar dengan memilih Mojtaba sebagai penerus Ali Khamenei. Dia pun mengisyaratkan bahwa pemimpin tertinggi yang baru mungkin akan menjadi sasaran berikutnya dan dibunuh seperti ayahnya.
“Saya tidak tahu apakah ini (kepemimpinan Mojtaba Khamenei) akan bertahan lama. Saya pikir mereka telah melakukan kesalahan,” katanya.
Iran Kembali Membalas
Beberapa waktu usai Mojtaba Khamenei dikabarkan terluka Iran telah menembakkan 300 rudal balistik ke wilayah Israel. Pasukan Pertahanan Israel menyebut setengah dari rudal balistik yang ditembakkan Iran diklaim membawa hulu ledak bom tandan.
“Sehari setelah serangan rudal menewaskan dua orang dan melukai satu lainnya di wilayah Israel Tengah,” tulis pernyataan pasukan pertahanan Israel, pada Selasa 10 Mart 2026.
Sebagian besar rudal saat itu berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel. Namun satu rudal yang membawa hulu ledak besar dilaporkan meledak di area terbuka dekat Beit Shemesh, tidak jauh dari Yerusalem.
Ledakan tersebut tidak menimbulkan korban luka, tetapi sempat memicu respons tim darurat. Meski hulu ledak bom tandan dikenal berbahaya karena dapat menyebarkan puluhan submunisi secara acak.
Setiap submunisi membawa bahan peledak yang dapat menghantam area hingga radius sekitar 10 kilometer.
Militer Israel mengakui sistem pertahanan udara mereka cukup efektif, namun tidak sepenuhnya kedap dari serangan.
Tak hanya itu, dalam pernyataanya Iran mengatakan tak akan memberi kesmepatan warga Israel untuk beristirahat dengan tenang. Rudal-rudal Iran tak hanya menyerang di jantung Irael, namun mengarah ke sejumlah negara terdekat yang dianggap sebagai tempat berlindung warga Israel.
Salah satunya ke Yordania yang bukan hanya jalur penerbangan rudal Iran menuju Israel, tetapi juga berbatasan langsung dengan Israel.
Situasi di Yordania pun memanas seiring perang yang berlangsung antara Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS). Seorang jurnalis Al Jazeera di Yordania mengatakan, telah mendengar suara pertahanan udara bergemuruh di kejauhan dari tempat dia berada.
“Jadi, saya mendengar suara pertahanan udara bergemuruh di kejauhan, dari tempat saya berada,” ungkap jurnalis Al Jazeera.
Ia menceritakan kisah suatu malam ketika suara sirene mberbunyi di tengah rudal yang diluncurkan ke Israel tengah dan Israel utara. Sirine itu sebagai pengingat agar warga Israel diharapkan untuk berlari ke ruang aman atau tempat perlindungan.
Serangan itu disebut sebagai strategi Iran yang tak memberi warga Israel istirahat. Meski militer Israel mengatakan setiap rudal tersebut telah ditembak jatuh atau jatuh di area terbuka, dan mereka belum mengatakan ada korban luka sejauh ini.
Jurnalis sulit mendapatkan penilaian tentang kerusakan yang ditimbulkan rudal-rudal ini karena militer Israel pada dasarnya tidak ingin wartawan berlari ke lokasi serangan, tidak ingin orang merekam kejadian dengan ponsel mereka dan mengunggahnya ke media sosial.
Iran mengklaim gelombang serangan baru terhadap Israel dan aset AS di Timur Tengah, termasuk di Irak, Bahrain, dan Kuwait. Meski media Israel mengatakan semua rudal Iran yang ditembakkan ke Israel telah dicegat dan memicu sirene di seluruh Tel Aviv dan bagian tengah negara itu. (*)
