Harga Minyak Dunia Anjlok 15 Persen Usai Trump Prediksi Perang dengan Iran Segera Berakhir
SinPo.id - Harga minyak dunia anjlok tajam pada Selasa 10 Maret 2026, sehari setelah sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2022. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memprediksi perang dengan Iran bisa segera berakhir, sehingga mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan minyak.
Kontrak berjangka Brent turun 14,5 persen atau US$14,23 menjadi US$84,73 per barel pada pukul 18.01 GMT. Sementara West Texas Intermediate (WTI) jatuh 15,5 persen atau US$14,46 ke posisi US$80,31 per barel.
Harga sempat lebih rendah di tengah hari setelah Menteri Energi AS Chris Wright menulis di X bahwa militer Amerika telah memfasilitasi pengiriman minyak keluar dari Selat Hormuz. “Presiden Trump menjaga stabilitas energi global selama operasi militer melawan Iran,” tulis Wright sebelum unggahan itu dihapus. Ia menambahkan, “Angkatan Laut AS berhasil mengawal kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz untuk memastikan pasokan tetap mengalir ke pasar global.”
Analis energi Andrew Lipow mengatakan, “Pasar bereaksi terhadap kemungkinan Selat Hormuz bisa kembali dibuka. Dari perspektif pemerintahan, langkah ini juga jelas membawa dampak: harga minyak dan bensin yang lebih rendah membantu meringankan beban konsumen.”
Sehari sebelumnya, harga minyak sempat menembus US$119 per barel akibat pemangkasan produksi oleh Arab Saudi dan negara produsen lain. Namun harga kemudian terkoreksi setelah Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan mengenai penyelesaian cepat konflik.
Trump juga menyebut dalam wawancara dengan CBS News bahwa perang melawan Iran sudah “sangat lengkap” dan Washington “jauh lebih maju” dari perkiraan awal empat hingga lima minggu. Pernyataan ini disebut analis DBS Bank, Suvro Sarkar, telah menenangkan pasar. “Komentar Trump tentang perang yang berumur pendek jelas menenangkan pasar. Kemarin ada reaksi berlebihan ke atas, hari ini ada reaksi berlebihan ke bawah,” ujarnya.
Meski demikian, Ketua Wood Mackenzie Simon Flowers mengingatkan pasokan minyak tidak akan segera pulih. “Ketika konflik berakhir, rantai pasokan tidak bisa langsung kembali normal. Jika sumur ditutup lama, butuh waktu berminggu-minggu atau lebih untuk kembali ke kapasitas penuh,” katanya.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran menegaskan tidak akan membiarkan “satu liter minyak pun” diekspor dari kawasan jika serangan AS dan Israel berlanjut. Sementara Arab Saudi melalui Aramco memperingatkan akan ada “konsekuensi katastrofik” bagi pasar minyak global jika perang terus mengganggu pengiriman di Selat Hormuz.

