Pemimpin Tertinggi Baru Iran, Mojtaba Khamenei, Dikabarkan Terluka di Tengah Konflik
SinPo.id - Laporan terbaru menyebutkan bahwa Mojtaba Khamenei, 56 tahun, putra kedua dari almarhum Ayatollah Ali Khamenei, yang baru saja ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, dikabarkan mengalami luka. Penunjukan Mojtaba diumumkan pada Minggu oleh majelis beranggotakan 88 orang, dan menjadi salah satu suksesi paling kontroversial sejak Revolusi Iran.
Dalam siaran televisi negara, ia digambarkan sebagai “janbaz” — istilah yang berarti “terluka oleh musuh” — dalam apa yang disebut media Iran sebagai “perang Ramadan”. Namun, laporan tersebut tidak menjelaskan bagaimana ia terluka, setelah sebelumnya istri dan ayahnya tewas akibat serangan udara Israel di Teheran.
Seorang analis dari BBC Persian, Parham Ghobadi, menilai:
“Dia telah mengambil pekerjaan paling berbahaya di dunia karena Amerika dan Israel telah bersumpah untuk menargetkan pemimpin berikutnya. Mereka mengatakan pemimpin baru Iran akan menjadi target sah untuk pembunuhan.”
Mojtaba, yang belum pernah tampil di depan publik sejak perang dimulai, disebut fasih berbahasa Inggris, pernah menempuh kursus psikologi, serta memiliki pengetahuan tentang teknologi modern, ilmu militer, keamanan, dan prinsip politik.
Pengangkatannya dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran tidak akan mundur di bawah tekanan. Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya pernah menyatakan bahwa ia menginginkan penerus yang “dibenci oleh musuh”.
Sejak protes besar tahun 2009, desas-desus tentang Mojtaba sebagai calon pemimpin sudah beredar. Kala itu, massa meneriakkan:
“Mojtaba, kami berharap kau mati. Kau tidak akan pernah jadi pemimpin berikutnya.”
Kini, sosok yang selama ini dianggap bayangan, tiba-tiba naik ke tampuk kekuasaan di saat paling kritis bagi Iran.
