HPI 2026, Legislator PDIP Desak Hentikan Kekerasan Perempuan di Zona Konflik
SinPo.id - Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka mendesak Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk segera menghentikan kekerasan terhadap perempuan di wilayah konflik. Perempuan tidak boleh menjadi korban keberingasan militer.
Demikian disampaikan Rieke dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (HPI) 2026. Peringatan HPI tahun ini mengusung tema 'For All Women and Girls'.
"Di Hari Perempuan Sedunia ini, saya memilih untuk tidak merayakan. Saya memilih untuk bersuara lantang, hentikan membunuh masa depan! Hentikan kekerasan terhadap perempuan di zona konflik!" kata Rieke dalam keterangannya, Jakarta, Minggu, 8 Maret 2026.
Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) ini juga menuntut komunitas internasional untuk tidak menutup mata dengan tragedi kemanusiaan tersebut. Dia mendorong komunitas internasional melakukan investigasi independen terhadap kejahatan perang tersebut.
"Hentikan keberingasan militer yang menjadikan anak-anak dan perempuan, sebagai sasaran. Tangisan para ibu di Iran adalah gugatan bagi hati nurani kita semua," ucapnya.
Di samping dari itu, Rieke memandang bila peringatan HPI 2026 berlangsung di bawah duka yang dalam. Sebab, serangan rudal AS terhadap Sekolah Putri Shajerah Tayyebeh di Minab, Iran, pada 28 Februari 2026, telah merenggut nyawa 165 orang.
Sebagian besar adalah siswi usia 7-12 tahun dan para guru perempuan yang sedang menjalankan tugas mulia mencerdaskan kehidupan. Menurutnya, tragedi ini mencoreng tema global HPI 2026, yang seharusnya menjadi seruan perlindungan hak perempuan dan anak di seluruh dunia.
Fakta bahwa sekolah ruang paling aman bagi anak perempuan untuk bermimpi dan belajar justru menjadi sasaran rudal, menunjukkan kegagalan sistem perlindungan warga sipil dalam konflik internasional.
Atas hal tersebut, Wakil Rakyat asal Jawa Barat VII itu mengutuk keras pembunuhan warga sipil dalam wilayah konflik. Agresi dengan menargetkan perempuan dan anak sebagai 'teror' untuk melumpuhkan pihak yang dianggap musuh adalah kejahatan keji terhadap kemanusiaan.
"Serangan itu bukan sekadar angka 165 korban jiwa. Hal itu adalah 165 mimpi yang dipadamkan paksa. Mereka adalah anak-anak yang seharusnya tumbuh, belajar, dan kelak berkontribusi bagi peradaban," kata dia.
Bagi Rieke, mereka adalah para guru yang gugur di medan pengabdian. UNESCO sendiri telah menegaskan bahwa menyerang fasilitas pendidikan adalah pelanggaran berat hukum humaniter internasional. Lalu, di mana tindakan dunia?
"Tema global HPI 2026, 'For All Women and Girls', hari ini terkoyak oleh darah para korban di Iran. Untuk perempuan dan anak perempuan mana dunia bicara jika rudal AS masih bebas membunuh mereka di sekolah?" kata Rieke.
