Pimpinan MPR Dorong Penguatan Cadangan Migas Nasional
SinPo.id - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta cadangan migas nasional ditingkatkan sampai dengan 3 bulan dari posisinya hari ini yang hanya 20 hari. Tujuannya, agar roda ekonomi nasional terus bergerak.
"Setiap negara yang memiliki kebutuhan migas untuk menggerakkan perekonomian dalam negerinya memerlukan ketersediaan dan keandalan pasokan agar berbagai sektor industri seperti pupuk, petrokimia dan transportasi bisa tetap beroperasi di saat kondisi geopolitik meruncing seperti kita alami saat ini," kata Eddy dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu, 7 Maret 2026.
"Karena Indonesia adalah net importir migas, saya sepakat dengan instruksi Presiden Prabowo agar cadangan strategis migas nasional ditingkatkan sampai dengan 90 hari," timpalnya.
Menurut Eddy, penguatan ketahanan cadangan migas menjadi sangat penting di saat pasokan migas dunia terganggu akibat perang yang tengah berkecamuk di Timur Tengah.
Menurut Eddy, saat ini kita tidak saja berbicara tentang availability of supply (ketersediaan pasokan), tetapi lebih dari itu reliability of supply (kehandalan pasokan).
Dia bahkan tak menbayangkan bila ketersediaan migas terkuras habis dan belum mendapatkan pasokan tambahan. Akibatnya antara lain, mobilitas masyarakat dan kegiatan industri praktis terhenti.
Kemudian, mobil dan sepeda motor tidak bisa bergerak, pesawat udara diistirahatkan di badara dan kapal laut akan menumpuk di pelabuhan.
"Belum lagi industri yang membutuhkan minyak dan gas sebagai bahan bakunya: pabrik pupuk, produsen plastik, petrokimia akan stop berproduksi. Oleh karenanya, kita harus memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan volume cadangan strategis migas sesuai arahan Presiden Prabowo," kata Eddy.
Legislator dari Fraksi PAN itu menyebut sampai sekarang belum ada yang bisa memprediksi kapan perang Iran-AS dan Israel selesai. Maka dari itu Indonesia perlu segera berbenah.
"Langkah-langkah yang bisa dilakukan antara lain diversifikasi pasokan impor untuk memastikan pasokan migas dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah dapat diperoleh Indonesia," kata dia.
Eddy mendorong penyediaan anggaran untuk membangun kapasitas penyimpanan tambahan, serta pembelian komoditas migas yang akan menjadi penyangga migas dalam negeri dalam kondisi kedaruratan. Oleh karena itu, dia mendukung pembentukan 'National Petroleum Fund' yang antara lain dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan energi dalam negeri.
Eddy juga memandang bahwa penebalan cadangan migas nasional tetap akan bermanfaat sekalipun kondisi geopolitik berjalan normal. "Di masa non kritis/darurat cadangan penyangga ini bisa berfungsi sebagai peredam gejolak harga komoditas, di saat harga migas naik mendadak di masa mendatang," kata Eddy.
"Krisis geopolitik dan perang di Timur Tengah saat ini mengajarkan bahwa ketahanan energi sangat vital bagi keberlangsungan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, sudah sepatutnya ketahanan energi disejajarkan dengan ketahanan nasional," tegas dia.
