Iran Murka di PBB: Pernyataan Donald Trump Soal Pemimpin Baru Dinilai Langgar Kedaulatan
SinPo.id - Ketegangan diplomatik dalam konflik Timur Tengah semakin memanas setelah Iran mengecam keras pernyataan Presiden Amerika Serikat yang dinilai mencampuri urusan dalam negeri negara tersebut.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir-Saeid Iravani, menegaskan bahwa pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan pemimpin baru Iran merupakan pelanggaran terhadap prinsip non-intervensi dalam hubungan internasional.
“Iran adalah negara berdaulat dan merdeka. Kami tidak menerima, dan tidak akan pernah mengizinkan, kekuatan asing mencampuri urusan internal kami,” tegas Iravani saat berbicara dalam sidang United Nations Security Council di New York.
Dalam forum tersebut, Iravani juga menuduh Amerika Serikat dan Israel telah melampaui batas dengan melancarkan serangan terhadap wilayah sipil di Iran. Menurutnya, berbagai serangan menargetkan kawasan padat penduduk serta infrastruktur publik seperti sekolah, fasilitas kesehatan, hingga sarana olahraga.
“Iran menilai tindakan tersebut sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang jelas,” ujar Iravani di hadapan para diplomat dunia.
Pernyataan keras itu muncul di tengah meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Tidak hanya melalui forum PBB, protes juga datang dari jaringan diplomat Iran di berbagai negara. Dalam sebuah surat terbuka bersama, para duta besar dan kepala misi diplomatik Iran di seluruh dunia mengecam pernyataan Trump yang sebelumnya menyerukan agar para diplomat Iran membelot di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Para diplomat tersebut menyebut komentar pejabat Amerika sebagai pernyataan “memalukan” yang menunjukkan ketidakpahaman terhadap realitas politik Iran dan sistem Republik Islam.
“Pernyataan pejabat Amerika terhadap aparat diplomatik Iran dan para diplomat patriotik merupakan bukti kegagalan mereka memahami realitas mendasar Iran serta kedalaman permusuhan mereka terhadap bangsa Iran,” demikian isi surat tersebut.
Mereka juga menegaskan bahwa para diplomat Iran tetap setia kepada negara dan nilai-nilai nasional serta religius, termasuk prinsip mempertahankan tanah air bahkan dengan pengorbanan terbesar.
Konfrontasi retorika ini menunjukkan bahwa konflik antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga di arena diplomasi internasional. Para pengamat menilai situasi tersebut berpotensi memperpanjang ketegangan global jika tidak segera diikuti upaya diplomasi yang serius.

