Mendag: Peta Dagang Kemungkinan Berubah Imbas Krisis Geopolitik Timur Tengah
SinPo.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai, eskalasi geopolitik yang terjadi di wilayah Timur Tengah, berpotensi menyebabkan terganggunya pasokan barang dari negara pemasok tertentu. Hal ini juga berpotensi mengubah peta perdagangan internasional.
"Kami melihat dari sisi perdagangan. Kalau krisis geopolitik itu biasanya akan mengubah peta perdagangan. Ketika global supply chain (rantai pasok global) terganggu, akan ada pasar yang kosong, karena pemasoknya terhambat," kata Budi di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Menurut Budi, kondisi ini dapat membuka peluang bagi negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengisi kekosongan pasar di sejumlah negara tujuan ekspor. Karenanya, pemerintah terus memantau perkembangan konflik, seraya melihat kemungkinan peluang jalur perdagangan baru.
"Ketika sebuah pasar di negara lain itu tidak disuplai oleh negara lain, berarti kan kosong. Nah kita ingin memanfaatkan itu, wilayah-wilayah yang kosong," kata Budi.
Selain itu, pemerintah juga tengah memetakan sejumlah negara tujuan ekspor yang relatif tidak terdampak konflik untuk dijadikan pasar alternatif bagi produk Indonesia. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Afrika berpotensi menjadi tujuan ekspor alternatif lantaran relatif tidak terdampak konflik geopolitik global saat ini.
"Kita harus mencari pasar lain ketika pasar tertentu terganggu," tukasnya.
