Transjakarta Atur Ulang Jam Layanan Saat Idulfitri
SinPo.id - PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) akan menyesuaikan jam operasional armada pada Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Layanan bus akan mulai beroperasi pukul 09.00 hingga 10.00 WIB pada hari H Lebaran.
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, Welfizon Yuza, mengatakan kebijakan tersebut didasarkan pada pengalaman perusahaan dalam melayani masyarakat saat hari besar keagamaan.
“Belajar dari pengalaman kita melayani di hari-hari besar, biasanya pada saat hari H Lebaran, itu kita menyesuaikan jam operasional,” kata Welfizon, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurut dia, penyesuaian dilakukan untuk memberi kesempatan kepada seluruh karyawan, terutama pramudi, agar dapat melaksanakan Shalat Idul Fitri. Selain itu, aktivitas masyarakat pada pagi hari Lebaran umumnya terpusat pada pelaksanaan salat dan silaturahmi keluarga.
Welfizon memperkirakan mobilitas warga baru meningkat menjelang siang. “Jadi mulai operasi kita perkirakan mungkin jam 09.00 atau jam 10.00. Biasanya silaturahmi mulai jam 10.00 atau bahkan setelah Zuhur. Jadi nanti kita akan sesuaikan jam operasionalnya,” tuturnya.
Selain penyesuaian jam operasional saat Lebaran, kata dia, Transjakarta juga berencana membebaskan biaya layanan seluruh moda angkutan selama Ramadan. Kebijakan tersebut, kata Welfizon, masih menunggu pengumuman resmi.
“Jadi nanti kita tinggal tunggu pengumumannya, apakah berapa hari, tanggal berapa, nanti kita lihat. Tapi kan beliau (Gubernur DKI Jakarta) sudah sampaikan dan diulang di beberapa doorstop, akan digratiskan (biaya layanan Transjakarta),” ujar Welfizon.
Welfizon menyebut pembebasan tarif merupakan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada momentum hari besar keagamaan. Sebelumnya, kebijakan serupa telah diterapkan saat perayaan Natal, Imlek, serta menyambut Ramadan.
“Tanggalnya tentu kita mengikuti dari Dinas Perhubungan. Nanti akan ada SK Kadis-nya. Kita menunggu. Apakah nanti tanggal 1 Syawal (20 Maret 2026) atau tanggal 1 dan 2, nanti kita lihat,” ucap dia.
Adapun terkait penerapan tarif Rp1, Welfizon menjelaskan angka tersebut merupakan formalitas sistem. Secara teknis, sistem pembayaran tetap memerlukan nilai transaksi agar terjadi perpindahan rupiah dari kartu pengguna.
“Secara sistem di TJ, MRT dan yang lain itu, 0 itu tetap harus ada nilai, makanya jadinya Rp1. Rp1 dan 0 sebenarnya kan enggak beda jauh lah ya, tapi secara teknologinya, karena memang harus ada proses rupiah yang ditransfer dari kartu, makanya konversi dari 0 menjadi Rp1,” tandasnya.
