Janji Akhiri Perang, Trump Justru Gempur Iran: Jejak Panjang Intervensi Militer AS Sejak 2001

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 04 Maret 2026 | 03:36 WIB
Ilustrasi perang (pixabay)
Ilustrasi perang (pixabay)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menuai sorotan setelah meluncurkan serangan militer besar-besaran ke Iran bersama Israel. Serangan tersebut menargetkan kepemimpinan Iran serta fasilitas nuklir dan infrastruktur misil negara tersebut.

Langkah ini dinilai kontras dengan janji Trump sebelumnya yang berkomitmen mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat dalam perang luar negeri yang mahal dan merusak. Namun, seperti para pendahulunya, Trump tetap mengandalkan kekuatan militer untuk mengejar kepentingan strategis Washington.

Pola Lama Kebijakan Luar Negeri AS

Sejak serangan 11 September 2001 di New York dan Washington, AS telah terlibat dalam tiga perang besar dan melakukan pengeboman di sedikitnya 10 negara: Afghanistan, Irak, Yaman, Pakistan, Somalia, Libya, Suriah, Venezuela, Nigeria, dan Iran.

Menurut analisis Brown University Watson Institute of International & Public Affairs, perang yang dipimpin AS sejak 2001 secara langsung menyebabkan sekitar 940.000 kematian di berbagai zona konflik, termasuk Afghanistan, Pakistan, Irak, Suriah, dan Yaman.

Angka tersebut belum termasuk korban tidak langsung akibat kelaparan, penyakit, atau runtuhnya layanan kesehatan.

Biaya Perang Tembus Rp 120.000 Triliun Lebih

Selama lebih dari dua dekade konflik, AS diperkirakan telah menghabiskan sekitar 5,8 triliun dolar AS untuk membiayai perang.

Rinciannya meliputi:

2,1 triliun dolar AS untuk Departemen Pertahanan

1,1 triliun dolar AS untuk Keamanan Dalam Negeri

884 miliar dolar AS untuk peningkatan anggaran dasar pertahanan

465 miliar dolar AS untuk perawatan medis veteran

1 triliun dolar AS untuk pembayaran bunga pinjaman perang

Dalam 30 tahun ke depan, pemerintah AS diperkirakan masih harus mengeluarkan tambahan 2,2 triliun dolar AS untuk perawatan veteran. Total keseluruhan biaya perang sejak 2001 diproyeksikan mencapai 8 triliun dolar AS.

Perang Afghanistan: 20 Tahun Konflik

Perang pertama pasca-9/11 dimulai pada 7 Oktober 2001 melalui Operasi Enduring Freedom di Afghanistan. Invasi ini bertujuan membubarkan Al-Qaeda dan menggulingkan Taliban.

Meski Taliban berhasil digulingkan dalam hitungan minggu, perang berubah menjadi konflik panjang selama 20 tahun, melintasi empat masa kepresidenan AS. Penarikan pasukan terakhir dilakukan pada 2021, dan Taliban kembali berkuasa.

Diperkirakan 241.000 orang tewas secara langsung dalam perang Afghanistan. Sedikitnya 3.586 tentara AS dan sekutunya gugur. Biaya perang ini saja mencapai sekitar 2,26 triliun dolar AS.

Irak: Klaim Senjata Pemusnah Massal yang Tak Terbukti

Pada 20 Maret 2003, Presiden George W. Bush melancarkan invasi ke Irak dengan tuduhan Presiden Saddam Husseinmemiliki senjata pemusnah massal—klaim yang kemudian terbukti tidak benar.

Meski Bush menyatakan “mission accomplished” pada Mei 2003, kekerasan justru berlanjut dan memicu kekosongan kekuasaan yang melahirkan kelompok ISIL.

Era Perang Drone

Di bawah pemerintahan Barack Obama, serangan drone meningkat signifikan, terutama di Pakistan, Somalia, dan Yaman. Operasi ini menargetkan militan Al-Qaeda dan kelompok bersenjata lainnya.

Meski tidak selalu diumumkan sebagai perang resmi, operasi udara ini memperluas jangkauan militer AS secara global.

Libya dan Suriah

Pada 2011, AS bergabung dalam intervensi NATO di Libya saat pemberontakan terhadap Muammar Gaddafi. Serangan udara membantu menggulingkan Gaddafi, tetapi Libya terjerumus dalam konflik berkepanjangan.

Sejak 2014, AS juga melakukan serangan udara di Suriah untuk melawan ISIL, sekaligus mempertahankan pengaruh di Irak dan membendung pengaruh Iran di kawasan.

Pada 2020, Trump memerintahkan serangan yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani, meningkatkan ketegangan Washington-Teheran secara drastis.

Iran Kembali Jadi Target

Serangan terbaru terhadap Iran mempertegas bahwa pola intervensi militer AS belum berubah secara fundamental sejak 2001. Di tengah janji untuk mengakhiri “perang tanpa akhir”, Washington kembali terlibat dalam konflik berskala besar.

Langkah ini berpotensi memperluas ketegangan di Timur Tengah dan menambah daftar panjang konflik yang melibatkan Amerika Serikat dalam dua dekade terakhir.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI