Iran Tutup Selat Hormuz, ASPEBINDO Minta Pemerintah Tingkatkan Cadangan BBM

Laporan: Tio Pirnando
Minggu, 01 Maret 2026 | 14:32 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz. (SinPo.id/Shutterstock)
Ilustrasi Selat Hormuz. (SinPo.id/Shutterstock)

SinPo.id - Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) mengingatkan, meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global. Terlebih, Iran sudah memutuskan menutup jalur distribusi Selat Hormuz.

"Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan hampir sepertiga perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz. Setiap eskalasi di kawasan tersebut akan berdampak langsung terhadap lonjakan harga energi global, termasuk biaya impor BBM dan LNG Indonesia yang saat ini masih cukup tinggi," kata Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira, dalam keterangannya, Minggu, 1 Maret 2026. 

Sekretaris Jenderal HIPMI ini menilai, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) yang telah melampaui 50 persen, menjadikan perekonomian nasional sangat rentan terhadap imported inflation akibat gejolak harga energi internasional. 

Kenaikan harga minyak mentah global berpotensi meningkatkan tekanan terhadap APBN, khususnya pada pos subsidi dan kompensasi energi.

Di sisi lain, potensi kenaikan harga LNG di pasar spot Asia akibat konflik global akan berdampak langsung terhadap biaya pokok penyediaan listrik nasional. Karena, sebagian pembangkit listrik di Indonesia masih bergantung pada pasokan LNG impor berbasis harga pasar.

Dalam situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu, Anggawira menyarankan pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipatif guna menjaga stabilitas energi nasional dan melindungi daya tahan sektor industri.

ASPEBINDO merekomendasikan langkah-langkah strategis, antara lain pemerintah perlu meningkatkan cadangan operasional BBM nasional sebagai buffer terhadap potensi gangguan pasokan global, memanfaatkan batubara dan gas bumi domestik untuk sektor ketenagalistrikan perlu dimaksimalkan guna mengurangi ketergantungan terhadap LNG berbasis harga spot.

Kemudian, pemerintah perlu mengamankan kontrak LNG jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga energi primer nasional, juga membentuk satuan tugas khusus untuk memantau dan merespons secara cepat dampak konflik global terhadap rantai pasok energi nasional.

Menurut Anggawira, dalam kondisi ketidakpastian geopolitik global, pemerintah perlu menyeimbangkan agenda transisi energi jangka panjang dengan kebutuhan menjaga ketahanan energi nasional dalam jangka pendek.

"Transisi energi tetap penting, namun dalam situasi konflik global, stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga energi harus menjadi prioritas utama untuk menjaga daya beli masyarakat dan keberlanjutan industri nasional," tukasnya. 

Sebagai informasi, Republik Islam Iran dikabarkan telah menutup Selat Hormuz, setelah adanya serangan gabungan AS dan Israel. Sejumlah pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan perusahaan perdagangan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LG. 

"Kapal-kapal kami akan tetap di tempat selama beberapa hari," ujar salah satu eksekutif senior sebuah perusahaan perdagangan besar, dikutip dari independent.co.uk. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI