Iran Serang Pangkalan AL AS di Bahrain, Soroti Kelemahan Pertahanan Udara
SinPo.id - Iran menargetkan pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain, menyoroti celah dalam sistem pertahanan udara yang kini menjadi kekhawatiran Washington dan sekutunya di kawasan. Video yang beredar menunjukkan misil dan drone menghantam sekitar markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Hingga kini belum ada laporan korban jiwa. Militer AS kemungkinan sudah mendapat peringatan dini dan mengambil langkah evakuasi personel.
Tom Sharpe, mantan Komandan Angkatan Laut Kerajaan Inggris, mengatakan Bahrain dipandang Iran sebagai target profil tinggi yang selama ini relatif minim pertahanan udara. Hal itu diperkuat dengan rekaman video yang menunjukkan drone Shahed buatan Iran yang bergerak lambat mampu menembus pertahanan.
AS dilaporkan telah mengirim sistem pertahanan tambahan ke kawasan, termasuk THAAD dan Patriot, yang mampu menembak jatuh misil balistik. Namun jumlahnya terbatas dan biaya operasionalnya tinggi. Bahkan Ukraina dengan kurang dari 10 baterai Patriot masih kesulitan melindungi Kyiv.
AS juga menempatkan sekitar selusin kapal perusak kelas Arleigh Burke di Teluk dan Mediterania timur, yang terbukti efektif menangkis serangan drone dan misil Houthi di Laut Merah. Antara 2024–2026, AS berhasil mencegat hampir 400 drone dan misil Houthi.
Meski memiliki lebih dari 100 jet tempur di kawasan, para analis menilai kemampuan ini tetap belum cukup untuk mencegah Iran melancarkan serangan ke sejumlah target. Iran diyakini masih memiliki sekitar 2.000 misil jarak pendek serta ribuan drone serang satu arah.
Shahed drone buatan Iran juga telah diekspor ke Rusia dan digunakan dalam perang di Ukraina. Rusia bahkan memproduksi ribuan unit per bulan dan kemungkinan membantu Iran meningkatkan kemampuan teknisnya.
Sharpe menekankan bahwa jika Iran melancarkan serangan besar-besaran, AS pada akhirnya bisa kehabisan interceptor THAAD dan Patriot. Namun Edmund Fitton-Brown dari Foundation for Defense of Democracies menilai serangan balasan Iran sejauh ini masih “moderate” dan tidak menunjukkan niat untuk memperluas konflik.

