Iran Teguh pada Program Nuklir
SinPo.id - Iran menegaskan sikapnya menolak tekanan Amerika Serikat terkait program nuklirnya. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menulis setelah pernyataan utusan AS Steve Witkoff bahwa Presiden Donald Trump bertanya-tanya mengapa Iran tidak menyerah: “Penasaran ingin tahu mengapa kami tidak menyerah? Karena kami ORANG IRAN.”
Pernyataan ini mencerminkan pandangan nasionalis dan kebanggaan Iran, yang memandang negara dengan 92 juta penduduk ini sebagai kekuatan historis yang pantas dihormati, bukan sekadar negara regional biasa. Program nuklir bagi Teheran bukan hanya soal energi, tetapi simbol kedaulatan, kemajuan teknologi, dan pencapaian ilmiah yang menjadi pilar struktural Republik Islam.
Negosiasi tidak langsung putaran ketiga antara AS dan Iran pada Kamis lalu menunjukkan kemajuan, meski Iran menolak konsesi penting terkait hak memperkaya uranium di dalam negeri. Bagi Teheran, penguasaan teknologi nuklir adalah bukti kemandirian dan strategi penyeimbang kekuatan global.
Para pakar menilai Iran tetap mempertahankan garis merah nuklir, sambil berharap AS, yang ingin menghindari perang, akan menerima pembatasan tertentu. Menurut Danny Citrinowicz dari Institut Studi Keamanan Nasional Tel Aviv, “menyerahkan program nuklir sama dengan menyerahkan salah satu pencapaian fundamental rezim,” yang akan dipandang sebagai penghinaan nasional.
Iran juga menggunakan program nuklir sebagai leverage strategis: kemampuan memperkaya uranium memberi opsi untuk mencegah tekanan atau serangan di masa depan. Meskipun serangan Israel dan AS pada 2025 menunjukkan bahwa status nuklir bukan jaminan keamanan, Teheran tetap enggan meninggalkan program ini sepenuhnya demi menjaga kedaulatan dan kemampuan bertahan jangka panjang.

