Wamenaker: Audit K3 Tak Boleh Ditawar, Ini Soal Nyawa

Laporan: Tio Pirnando
Sabtu, 28 Februari 2026 | 17:22 WIB
Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, Afriansyah Noor. (SinPo.id/dok. Kemnaker)
Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, Afriansyah Noor. (SinPo.id/dok. Kemnaker)

SinPo.id - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor menegaskan, audit Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak boleh dikompromikan, apalagi ditawar. Sebab, sedikit saja ada kelalaian dalam keselamatan kerja bisa menghentikan operasional, merusak reputasi perusahaan, bahkan mengubah hidup sebuah keluarga dalam sekejap.

"Independensi sebagai lembaga audit harus dijaga. Jangan sampai ada celah atau pembiaran terhadap potensi risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja,” kata Afriansyah dalam keterangannya, Sabtu, 28 Februari 2026. 

Menurutnya, audit penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) bukan sekadar memeriksa dokumen, tetapi memastikan sistem keselamatan benar-benar berjalan di lapangan. Yaitu dengan mengenali bahaya, mengendalikan risiko, dan melakukan perbaikan sebelum insiden terjadi.

Bagi pekerja, audit yang tegas berarti perlindungan nyata yakni ada sistem yang memastikan tempat kerja aman dan risiko tidak diabaikan. Sedangkan untuk perusahaan, audit yang kredibel adalah bagian dari manajemen risiko dimana dapat mencegah gangguan operasional, menekan potensi kerugian, dan menjaga kepercayaan publik.

Afriansyah mengingatkan, audit yang lemah atau kompromistis, justru membuka ruang risiko yang lebih besar. Ketika standar keselamatan tidak ditegakkan, dampaknya bukan hanya pada pekerja, tetapi juga pada keberlanjutan usaha itu sendiri.

Untuk itu, ia meminta PT IDSurvey (Persero) sebagai lembaga inspeksi dan audit sistem manajemen bersikap tegas terhadap pengguna layanan yang tidak memenuhi standar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap ketidaksesuaian harus dicatat dan disampaikan secara objektif.

"Keselamatan kerja adalah hak. Sistemnya harus berjalan dan auditnya harus jujur. Jika tidak, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi, tetapi masa depan," tukasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI