Menteri UMKM: Masak Celana Dalam Pun Masih Impor? Nggak Masuk Akal
SinPo.id - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengaku tak habis pikir dengan produk-produk sederhana yang sebenarnya mampu diproduksi industri dalam negeri, justru masih didominasi oleh barang impor dari China. Contoh ekstremnya, impor celana dalam.
"Celana, masak kita sendiri nggak bisa (produksi)? Celana dalam aja underwear lho, bayangin. Underwear itu yang nggak dilihatin, nggak kelihatan kan. Masak itu aja kita masih harus impor? Nggak masuk akal," kata Maman dalam diskusi media di Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026.
Maman memaparkan grafik ekspor China dan impor Indonesia dari United Nations Trade and Development periode 2013 hingga 2024 yang menujukkan adanya gap data. Mulai dari hijab dan syal, pakaian bayi, korset dan bra, pakaian dalam wanita, celana dalam pria, kemeja pria, kaos, celana dan jas pria, gamis hingga rok wanita.
Misal, ekspor hijab dan syal (HS 6214) dari China pada 2019 sebesar US$118,0 juta. Data impor Indonesia tercatat hanya US$28,7 juta. China ekspor pakaian bayi (HS 6111) tahun 2022 sebesar US$9,4 juta, Indonesia mencatat impor senilai US$3,1 juta.
Tak hanya itu, China ekspor korset dan bra (HS 6216) pada 2024 mencapai US$83,2 juta, sedangkan impor Indonesia tercatat US$28,8 juta. Ekspor pakaian dalam wanita (HS 6108) pada 2021 tercatat US$ 93, 0 juta, data impor di Indonesia hanya US$21,8 juta.
Impor celana dalam pria (HS 6107) oleh Indonesia pada 2021 hanya US$6,8 juta, China mencatat ekspor komoditas tersebut sebesar US$ 24,2 juta. Ekspor sepatu kain (HS 6404) China tahun 2024 sekitar US$157,2 juta, sementara impor Indonesia hanya US$112,4 juta, menyisakan selisih lebih dari US$40 juta. Data 2024 menunjukkan ekspor kaos atau T-shirt (HS 6109) China senilai US$ 61,7 juta, impor di Indonesia hanya mencatat US$20,4 juta.
Menurut Maman, banjir barang impor inilah yang menjadi biang kerok UMKM sulit naik kelas. Akibatnya, seberapa banyak pun dukungan kepada UMKM, tetap akan sulit bersaing.
"Sebagus apapun mereka (UMKM) dibantu hari ini sehingga mereka bisa produksi, tapi mereka nggak bisa jual barang, ya percuma. Sebab pasar kita saat ini dipenuhi barang impor," ujarnya.
Maman menilai, maraknya produk impor memenuhi pasar dalam negeri ini, tidak lain karena lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh salah satu institusi pengawas perbatasan aliran masuk barang.
"Yang jadi masalah ini adalah barang-barang ilegal impor yang masuk yang tidak terdata, itu yang disebut oleh Pak Presiden under invoicing. Data impor di tempat kita masuk barang-barang impor ini itu 100, tetapi dari China yang tercatat barang ekspornya itu 900. Berarti ada 800 gap yang tidak tercatat itu membanjiri produk domestik kita," tukasnya.
