Tekanan Balik Iran Terhadap Amerika

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 27 Februari 2026 | 04:57 WIB
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id)
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id)

Aktivitas militer Iran diakui sebagai ancaman balik terhadap tekanan AS dan Israel. Setidaknya diakui mantan Komandan Angkatan Udara Israel (IAF) Mayor Jenderal purnawirawan Amikam Norkin yang memperingatkan kemajuan teknologi militer Iran

SinPo.id -  Militer Iran siaga penuh dengan menempatkan sistem rudalnya di dekat perbatasan Irak serta di sepanjang Teluk Persia.  Selain itu, tentara bangsa Persia  itu disebut terus menggelar latihan militer dan uji coba rudal, termasuk di Selat Hormuz.

Langkah Iran akhir-akhir ini sebagai sikap menghadapai tekanan Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya telah mengerahkan dua kapal induknya ke kawasan Timur Tengah.

Iran itu tak hanya melibatkan militer, namun juga termasuk milisi Basij yang bersiap mengamankan kota-kota besar jika konflik pecah, guna mencegah gelombang protes anti-pemerintah.

Meski media oposisi Iran International melaporkan adanya aksi mahasiswa di sejumlah universitas besar di Teheran dan kota lain yang memperingati korban tewas dalam demonstrasi sebelumnya.

Aktivitas militer Iran diakui sebagai ancaman balik terhadap tekanan AS dan Israel. Setidaknya diakui mantan Komandan Angkatan Udara Israel (IAF) Mayor Jenderal purnawirawan Amikam Norkin yang memperingatkan kemajuan teknologi militer Iran termasuk rudal, drone, dan kemampuan siber yang disebut sebagai “wake-up call” bagi Israel dan sekutunya.

“Iran memiliki teknologi canggih, kita tidak bisa meremehkannya. Setelah bertahun-tahun menangani teknologi Rusia, sekarang kita harus menangani teknologi Iran,” ujar Amikam Norkin dalam wawancara eksklusif dengan The Jerusalem Post.

Menurut Norkin, Israel harus menghindari konflik berkepanjangan dan terus berinovasi lebih cepat daripada musuhnya. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem pertahanan yang mampu mengoperasionalkan inovasi teknologi menjadi kemampuan militer nyata.

Norkin kini memimpin Ace Capital Partners, sebuah dana investasi yang mendukung perusahaan rintisan di bidang teknologi pertahanan, menilai ancaman di Timur Tengah telah berubah drastis sejak 2010, ketika Israel menghadapi ribuan roket, rudal, dan drone dari berbagai pihak.

“Timur Tengah benar-benar berbeda dari tahun 2010. Karena itu, Israel harus mampu mengelola pertahanannya dengan berbagai kemampuan, ” ujar Norkin menambahkan.

Norkin membeberkan sejumlah tekhnologi perang Iran seperti peran UAV  atau drone dalam perang 12 hari melawan Iran pada Juni lalu. Menurut Norkin, 70 persen jam terbang IAF dilakukan UAV berhasil menghancurkan peluncur rudal balistik dan sistem pertahanan udara sebelum ditembakkan ke Israel.

Norkin juga menekankan masa depan pertahanan global yang akan ditentukan oleh teknologi ruang angkasa dan kecerdasan buatan  atau AI. Hal itu dinilai akan menjadi tulang punggung generasi berikutnya dalam menjaga keunggulan strategis.

Penjelasan Norkin itu dibuktikan dengan kekuatan rudal Iran ke Tel Aviv yang diluncurkan pada 10 bulan lalu tepatnya Juni 2025. Rudal itu menghantam  proyek apartemen mewah Da Vinci Towers dengan dampak serius, bukan hanya kerusakan fisik tetapi juga reputasi.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan berat pada menara utara dan kerusakan lebih ringan di menara selatan. Meski sebagian besar perbaikan di menara selatan telah selesai, lobi utama masih ditutup sehingga akses ke apartemen hanya bisa melalui garasi parkir.

Pemilik unit di menara selatan kesulitan menyewakan apartemen mereka dengan harga setara kompensasi resmi atau proyek sejenis di kawasan Sarona. Data dari situs Madlan menunjukkan harga sewa jauh di bawah kompensasi yang dibayarkan oleh Otoritas Pajak Properti. Misalnya, apartemen 129 m² di lantai 24 ditawarkan seharga NIS 15 ribu atau sekitar $4.820 per bulan, padahal kompensasi untuk unit sejenis mencapai NIS 18 ribu atau setara $5.790. Selain itu, harga sewa di Da Vinci Towers juga tertinggal dibandingkan proyek baru di sekitar Sarona, di mana unit serupa bisa mencapai NIS 22 atau $7.070 per bulan.

Mantan ketua Biro Penilai Properti, Erez Cohen  menyebut proyek itu kini menghadapi “stigma serius” akibat kerusakan fisik dan persepsi kawasan sebagai target konflik. Ia menilai proyeksi perbaikan dalam waktu satu setengah tahun mungkin terlalu optimistis.

“Meski lokasinya strategis dekat Azrieli dan Sarona, Da Vinci Towers kini membawa semacam tanda aib,” ujar Erez.

Menurut Erez, dengan biaya pemeliharaan tinggi sekitar NIS 18 per m² per bulan, pemilik apartemen menghadapi beban ganda: kerugian reputasi dan tekanan finansial.

Khamenei Siapkan Suksesi Darurat

Langkah Iran juga dibuktikan dengan kesiapan pemerintahan darurat jika sewaktu-waktu konflik bersenjata dengan Amerika melibatkan Israel terjadi. Tercatat pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei disebut telah menyiapkan rencana suksesi rinci serta rantai komando darurat jika dirinya atau para pemimpin puncak Iran tewas dalam potensi serangan Amerika Serikat atau Israel.

Laporan The New York Times pada Minggu 23 Februari 2026 menyebut Iran memandang serangan AS sebagai sesuatu yang tak terelakkan dan segera terjadi. Dalam konteks tersebut, Teheran meningkatkan status siaga militer ke level tertinggi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan ancaman aksi militer.

Khamenei disebut menunjuk Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, untuk memegang kendali krisis nasional. Larijani, mantan komandan Garda Revolusi dan politisi senior kini mengawasi penanganan diplomasi nuklir dengan Washington, koordinasi dengan Rusia, Qatar, dan Oman, hingga perencanaan perang.

Meski diberi kewenangan luas, Larijani disebut bukan kandidat suksesor Pemimpin Tertinggi karena bukan ulama senior Syiah. Selain Larijani, sejumlah nama lain masuk dalam lingkar inti pengambilan keputusan darurat, termasuk penasihat militer senior Mayjen Yahya Rahim Safavi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Trump Mulai Frustrasi Dengan Batasan Opsi Militer

Dari Amerika justru dilaporkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin frustrasi terhadap keterbatasan opsi militer terhadap Iran. Sikap Trump itu setelah para pejabat Pentagon memperingatkan potensi konsekuensi besar dari tindakan militer langsung terhadap rezim Teheran.

Sumber yang diwawancarai oleh CBS News menyebutkan, Trump diberi tahu kondisi berbeda dengan operasi militer seperti yang dulu dilakukan terhadap Venezuela.  Serangan terhadap Iran kemungkinan tidak akan cukup dilakukan hanya dengan satu serangan. “Pasukan militer Amerika dan penasihat presiden memperkirakan bahwa serangan tersebut bisa berkembang menjadi konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah, dengan risiko tinggi terhadap pasukan AS dan sekutu,” kata laporam CBS News. 

Para pejabat di Pentagon, termasuk Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, memperingatkan bahwa kampanye militer yang lebih luas bisa menyebabkan korban jiwa, kekurangan amunisi, serta potensi keterlibatan pasukan tambahan dalam operasi jangka panjang yang bisa menguras sumber daya Amerika dan membahayakan sekutu.

Trump sendiri telah membantah klaim bahwa Jenderal Caine menentang opsi militer tersebut, menegaskan bahwa jenderal tersebut siap “menang” jika perintah perang diberikan. Namun hingga saat Trump belum memutuskan apakah akan melancarkan serangan udara terbatas untuk memberi tekanan atau mengejar kesepakatan diplomatik dengan Iran.

Beberapa laporan media menunjukkan bahwa opsi serangan awal yang lebih kecil sedang dipertimbangkan sebagai cara untuk memaksa Tehran kembali ke meja perundingan mengenai isu nuklir. Namun, Trump juga menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi opsi utama jika memungkinkan, meskipun ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, hal itu akan menjadi hari yang buruk bagi Iran. 

Sedangkan secara politik partai Republik terbelah mengenai rencana penyerangan Iran. Bahkan wacana tersebut memicu perdebatan di internal Partai Republik yang sebagian besar basis konservatif disebut menolak keterlibatan militer baru di Timur Tengah. Mereka khawatir konflik akan menyerupai perang panjang di Irak dan Afghanistan yang dinilai minim keuntungan strategis bagi AS.

Dalam wawancara antara komentator konservatif Tucker Carlson dan Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee menyebutkan mendukung langkah agresif Israel di kawasan, yang kemudian memicu kecaman bersama dari sejumlah negara Timur Tengah. Namun Gedung Putih menyatakan bahwa pernyataan Huckabee telah diambil di luar konteks. 

Di sisi lain, pejabat senior AS kepada Axios menyatakan Washington bersedia mengirim negosiator ke Jenewa pada Jumat mendatang jika Iran mengajukan proposal baru dalam 48 jam ke depan.  Perundingan sebelumnya dimediasi Oman dan kembali digelar pekan lalu di Jenewa, setelah AS mengerahkan dua kapal induk dan sejumlah besar kekuatan militer ke kawasan.

Utusan AS untuk perundingan, Steve Witkoff, dilaporkan menunggu draf proposal terbaru dari Teheran. Seorang pejabat AS menyebut peluang diplomasi ini kemungkinan menjadi kesempatan terakhir sebelum opsi militer besar diluncurkan. (*)

 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI