APBN Januari Defisit Rp54,6 Triliun, Menkeu: Masih dalam Koridor

Laporan: Tio Pirnando
Senin, 23 Februari 2026 | 17:42 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (SinPo.id/Tangkapan layar)
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (SinPo.id/Tangkapan layar)

SinPo.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan APBN per 31 Januari 2026 mengalami defisit sebesar Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibanding awal tahun lalu yaitu sebesar Rp23 triliun atau 0,09 persen. 

"Dengan dinamika yang signifikan, posisi defisit APBN tercatat mencapai Rp54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026," kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KITA di Jakarta, Senin, 23 Februari 2026. 

Purbaya menerangkan, defisit ini didorong oleh pendapatan negara per akhir Januari 2026 sebesar Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2026 yaitu Rp3.153,6 triliun. 

Dia merincikan, untuk pendapatan negara, terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp116,2 triliun, penerimaan bea cukai sebesar Rp22,6 triliun, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp33,9 triliun.

"Kalau Anda lihat tuh, pertumbuhan pajak di bulan Januari tumbuhnya 30,7 persen dibandingkan tahun lalu. Ini artinya ada perbaikan ekonomi atau ada perbaikan sedikit atau banyak dari efisiensi pengumpulan pajak di Ditjen Pajak. Saya harap, ke depan ini akan berlanjut terus," kata Purbaya.

Sedangkan realisasi belanja negara telah mencapai Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari pagu yang ditetapkan. Rincian belanja ini terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp131,9 triliun atau tumbuh 53,3 persen (yoy), serta transfer ke daerah sebesar Rp95,3 triliun.

"Ini menunjukan akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun khususnya untuk mendukung program prioritas, menjaga daya beli, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal satu," tukasnya.

 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI