Legislator DKI Nilai Bazar Takjil Bisa Jadi Ikon Baru Ramadan Jakarta

Laporan: Sigit Nuryadin
Minggu, 22 Februari 2026 | 22:49 WIB
Pusat jajanan takjil Benhil kembali dipadati oleh warga yang sedang ingin mencari makanan untuk berbuka puasa (Ashar/SinPo.id)
Pusat jajanan takjil Benhil kembali dipadati oleh warga yang sedang ingin mencari makanan untuk berbuka puasa (Ashar/SinPo.id)

SinPo.id - Riuh penjual kolak, gorengan, dan minuman manis saat Ramadan selama ini identik dengan geliat ekonomi musiman di sudut-sudut Ibu Kota. Namun, potensi bazar takjil dinilai belum sepenuhnya digarap sebagai agenda terkonsep yang mampu memperkuat identitas ekonomi kerakyatan Jakarta.

Anggota DPRD DKI Jakarta Muhammad Al Fatih menilai bazar takjil selama Ramadan berpotensi menjadi destinasi ikonik yang dinanti masyarakat setiap tahun. Dia mengatakan, kegiatan tersebut tak semestinya dipandang sekadar aktivitas musiman.

“Ini penting, agar Ramadan di Jakarta punya ciri khas ekonomi kerakyatan yang kuat sekaligus efektif mendorong promosi UMKM lokal,” kata Al Fatih dalam keterangannya, Minggu, 22 Februari 2026.

Menurut dia, potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) takjil di Jakarta sangat besar. Karena itu, Al Fatih mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta mengemas bazar Ramadan secara lebih terstruktur dan berkonsep.

Al Fatih menyebut konsep bazar yang terkurasi dan nyaman akan memberi nilai tambah bagi pelaku usaha maupun pengunjung. Dia menilai, penataan lokasi berjualan, peningkatan kualitas produk, serta dukungan fasilitas yang memadai menjadi faktor kunci agar UMKM tidak hanya meraup keuntungan jangka pendek.

“Penataan yang baik akan membuka peluang bagi UMKM untuk berkembang secara berkelanjutan, bukan hanya ramai saat Ramadan,” tuturnya. 

Dia juga menilai bazar Ramadan yang tertata rapi dapat memperkuat identitas Jakarta sebagai kota dengan ekonomi kerakyatan yang dinamis. Menurut dia, langkah penataan yang tepat dan penguatan konsep perlu dibarengi dengan dorongan digitalisasi.

“Dengan digitalisasi, jangkauan pasar lebih luas, transaksi lebih praktis, pencatatan usaha lebih rapi, UMKM bisa lebih berdaya saing, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga setelahnya,” kata Al Fatih.

Al Fatih meyakini Ramadan dapat menjadi momentum strategis untuk memperkuat daya saing dan keberlanjutan UMKM di Ibu Kota, asalkan pemerintah daerah serius menata bazar takjil sebagai bagian dari agenda ekonomi yang terencana.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI