Iran Antara Ancaman AS dan Krisis Internal

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 20 Februari 2026 | 04:12 WIB
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id)
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id)

Selain ditekan oleh Amerika Serikat dengan tuduhan produksi nuklir, Iran juga mendapat protes dari dalam negeri dengan munculnya aksi masa.  Demonstrasi bersar-besaran oleh warga sipil Iran itu juga menimbulkan korban tewas yang mencapai 7.003 orang.

SinPo.id -  Militer Amerika Serikat (AS) sedang menyiapkan kemungkinan operasi berkelanjutan selama berminggu-minggu terhadap Iran jika Presiden Donald Trump memerintahkan serangan. Meski langkah itu dinilai meningkatkan tensi diplomasi yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.

Tercatat Amerika menekan Iran dengan dalih negara berbangsa Persia itu banyak memproduksi nuklir. Delegasi AS yang dipimpin Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Iran di Jenewa pada Selasa, dengan Oman bertindak sebagai mediator.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan meski Trump lebih memilih kesepakatan, namun itu sangat sulit dilakukan.

Sedangkan Presiden Trump telah mengerahkan kekuatan militer tambahan ke kawasan Timur Tengah. Hal itu dibuktikan dengan Pentagon mengirim kapal induk tambahan, ribuan pasukan, pesawat tempur, kapal perusak misil, dan persenjataan lain yang mampu melancarkan serangan maupun bertahan dari serangan balasan.

“Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” ujar Trump saat berbicara di hadapan pasukan AS di North Carolina.

Dalam pernyataanya, Trump bahkan membuka kemungkinan perubahan rezim di Iran. Meski tidak menyebut siapa yang akan menggantikan pemerintahan Iran. Opsi serangan udara dan laut kini terlihat dominan, dengan kemungkinan operasi khusus seperti yang dilakukan di Venezuela bulan lalu.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan, “Presiden Trump memiliki semua opsi di meja terkait Iran. Ia mendengarkan berbagai perspektif, tetapi keputusan akhir dibuat berdasarkan apa yang terbaik bagi negara dan keamanan nasional.

Pejabat AS menyebut operasi kali ini lebih kompleks dibanding serangan “Midnight Hammer” pada Juni lalu yang hanya berupa serangan sekali jalan terhadap fasilitas nuklir Iran. Dalam skenario berkelanjutan, target bisa mencakup fasilitas negara dan keamanan Iran, bukan hanya infrastruktur nuklir.

Meski para ahli memperingatkan risiko besar bagi pasukan AS, mengingat Iran memiliki cadangan misil yang kuat. Retaliasi Iran juga berpotensi memicu konflik regional. Garda Revolusi Iran sebelumnya mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah jika wilayah Iran diserang.

Penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Shamkhani, menegaskan pihaknya tidak bersedia berkompromi mengenai kemampuan rudal mereka, dalam negosiasi dengan AS.

“Kemampuan rudal Republik Islam tidak dapat dinegosiasikan,” kata Ali dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 12 Februari 2026.

Pernyataan tersebut muncul setelah adanya serangkaian pembicaraan mediasi antara pejabat AS dan Iran pekan lalu di Oman yang gagal menghasilkan kesepakatan. 

Iran menginginkan pembicaraan mediasi tersebut fokus secara eksklusif pada isu-isu nuklir, sementara AS terus mendorong untuk kemudian membahas program rudal balistik Iran dan aliansi regional.

Namun saat ini, Washington dan Teheran telah kembali mempertimbangkan putaran pembicaraan berikutnya, meskipun belum ada tanggal yang diumumkan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, mengkonfirmasi dirinya telah memerintahkan dimulainya pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat, setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan hal-hal buruk jika tidak tercapai kesepakatan.

Meski Teheran bersikeras menginginkan diplomasi, pihaknya tetap berjanji akan memberikan respons tanpa batas terhadap agresi apa pun yang menargetkan Iran.

"Saya telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri saya, dengan syarat lingkungan yang sesuai ada, yang bebas dari ancaman dan harapan yang tidak masuk akal, untuk melakukan negosiasi yang adil dan merata," tulis Pezeshkian dalam sebuah unggahan di X, dilansir dari CNA, Rabu, 4 Februari 2026.

Sementara itu, seorang pejabat senior dari negara Teluk, Uni Emirat Arab, mengatakan bahwa Iran perlu mencapai kesepakatan dan membangun kembali hubungan mereka dengan Amerika Serikat.

"Saya ingin melihat negosiasi langsung antara Iran dan Amerika yang mengarah pada pemahaman sehingga kita tidak menghadapi masalah ini setiap hari," kata penasihat presiden Anwar Gargash.

Namun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari Iran tentang di mana pembicaraan akan diadakan, tetapi seorang pejabat Arab, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa pertemuan kemungkinan akan berlangsung di Turki pada hari Jumat mendatang.

Iran telah berulang kali menegaskan pembicaraan harus tetap fokus hanya pada masalah nuklir, dan Iran menolak negosiasi tentang program rudal atau kemampuan pertahanannya.

Aksi Protes Rakyat Iran

Selain ditekan oleh Amerika Serikat dengan tuduhan produksi nuklir, Iran juga mendapat protes dari dalam negeri dengan munculnya aksi masa.  Demonstrasi bersar-besaran oleh warga sipil Iran itu juga menimbulkan korban tewas yang mencapai 7.003 orang. Para aktivis menyebut jumlah tersebut kemungkinan akan bertambah.

Meningkatnya angkat kematian dalam aksi unjuk rasa tersebut, menambah ketegangan yang dihadapi Iran, baik di dalam negeri, maupun di luar negeri. Iran yang sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat mengenai program nuklirnya.  

Lapoan BBC.com menyebutkan rangkaian demonstrasi anti-pemerintah di Iran telah mencapai tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah 47 tahun Republik Islam tersebut. Aksi itu juga mendapat dukungan dari Pesiden AS Donald Trump yang mengancam bakal menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah jika pihak otoritas Iran menindak para demonstran.

“AS siap membantu," ujar Trump.

Peneliti sosiologi, Eli Khorsandfar mengatakan, gelombang demonstrasi memang telah berlangsung di kota-kota besar Iran. Namun, aksi protes juga merembet ke kota-kota kecil, mungkin belum pernah didengar banyak orang.

Tercatat kemarahan rakyatnya yang masih membara atas tewasnya ribuan orang dalam aksi protes yang berlangsung sejak 28 Desember 2025 lalu.  Aksi masa besar terjadi di berbagai kota di Iran akibat krisis ekonomi dan ketidakpuasan luas terhadap pemerintah.

Awalnya dipicu inflasi tinggi, kenaikan harga pangan, dan anjloknya nilai rial, protes ini cepat berkembang menjadi tuntutan mengakhiri pemerintahan Republik Islam.

Dimulai dari pedagang dan pemilik toko di Teheran, aksi menyebar ke kampus-kampus dan melibatkan banyak mahasiswa. Para demonstran menyuarakan slogan-slogan anti-pemerintah seperti "Mati untuk Diktator", "Pahlavi akan kembali", dan "Hidup Shah" mencerminkan tuntutan ekonomi sekaligus politik.

Aksi protes awalnya terpusat di kawasan niaga Teheran, kemudian menyebar ke Isfahan, Syiraz, dan Masyhad.  Di Teheran, aksi berfokus di Bazar Besar, ketika para pedagang yang mogok menuntut intervensi pemerintah. Sementara rekaman yang dibagikan di media sosial menunjukkan aparat membubarkan massa dengan gas air mata.

Seiring membesar, demonstran di banyak kota menuntut perbaikan ekonomi dan perubahan politik, termasuk seruan "kebebasan" dan penolakan terbuka terhadap pemerintah. Gerakan ini menjadi gelombang kerusuhan terbesar sejak protes 2022–2023 pasca kematian Mahsa Amini.

Iran sendiri mengalami inflasi tahunan mencapai 48,6 persen pada Oktober 2025 dan 42,2 persen pada Desember 2025 bersamaan  nilai rial jatuh ke rekor 1,45 juta per dolar AS. Sedangkan harga pangan dan kebutuhan pokok melonjak tajam. Krisis mata uang ini diperparah oleh Perang Dua Belas Hari dengan Israel dan kembalinya sanksi nuklir PBB melalui mekanisme snapback.

Namun Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan demonstrasi tersebut dimanipulasi oleh "musuh-musuh Iran". Tapi, masalahnya adalah negaranya punya lebih banyak musuh ketimbang teman dalam beberapa tahun terakhir. (*)

BERITALAINNYA
BERITATERKINI