MSF Hentikan Operasi di Nasser Hospital, Akui Kehadiran Bersenjata di Gaza
SinPo.id - Organisasi medis internasional Médecins Sans Frontières (MSF) memicu kontroversi baru setelah mengumumkan penghentian operasi di Nasser Hospital, Khan Younis, Gaza. Keputusan itu diambil menyusul laporan adanya "pola tindakan tidak dapat diterima, termasuk keberadaan pria bersenjata, intimidasi, penangkapan sewenang-wenang terhadap pasien, serta dugaan pergerakan senjata," yang menurut MSF menimbulkan ancaman serius bagi tim medis dan pasien.
Israel Defense Forces (IDF) menyebut langkah MSF sebagai bukti tambahan bahwa Hamas menggunakan fasilitas medis sebagai markas militer. "Ini semakin menegaskan perlunya perlucutan senjata organisasi teroris Hamas," kata IDF dalam pernyataan resmi.
Salo Aizenberg dari HonestReporting menilai MSF baru mengakui keberadaan bersenjata di rumah sakit setelah sebelumnya mengecam Israel ketika melakukan penggerebekan pada 2024. "MSF kini mengonfirmasi rumah sakit digunakan untuk pergerakan senjata. IDF benar sejak awal," ujarnya.
Sementara itu, Gedung Putih menyatakan belum dapat mengonfirmasi klaim MSF, namun menegaskan bahwa "kehadiran mengancam dari Hamas adalah alasan mengapa kami terus menekankan perlunya Hamas dilucuti."
MSF juga menghadapi kritik dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang menuduh rumah sakit tersebut kerap menyebarkan laporan palsu terkait korban sipil di lokasi distribusi bantuan. Di sisi lain, organisasi internasional lain seperti Oxfam juga mendapat tekanan, dengan pemerintah Israel memutuskan melarang operasinya di Gaza mulai akhir Februari.
