Guru Dibantai KKB, Kawan Indonesia: Pembunuhan Masa Depan Anak Papua

Laporan: Tio Pirnando
Selasa, 10 Februari 2026 | 14:00 WIB
KKB menyerang sekolah di Yahukimo (SinPo.id/Tangkapan layar)
KKB menyerang sekolah di Yahukimo (SinPo.id/Tangkapan layar)

SinPo.id - Aksi keji kembali dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Seorang guru bernama Frengki (55) dibunuh secara brutal di ruang guru saat aktivitas belajar mengajar masih berlangsung di Sekolah Yakpesmi, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Senin, 2 Februari 2026. 

Koordinator Nasional (Kornas) Kawan Indonesia, Arief Darmawan, menyebut pembunuhan tersebut sebagai teror terbuka terhadap dunia pendidikan dan ancaman serius bagi pembangunan generasi muda Papua.

"Perbuatan keji KKB ini bukan sekadar pembunuhan guru. Ini pembunuhan masa depan anak-anak Papua. Ketika sekolah dijadikan medan pembantaian, yang dibunuh bukan hanya satu nyawa, tapi harapan satu generasi," kata Arief Darmawan dalam keterangannya, Selasa, 10 Februari 2026. 

Menurutnya, peristiwa berdarah itu terjadi setelah terdengar letusan senjata api dari belakang sekolah. Korban yang berusaha menyelamatkan diri justru dikejar tiga pelaku bersenjata dan diparang hingga tewas di ruang guru. Para siswa yang masih berada di kelas terpaksa diamankan dan akhirnya dipulangkan karena situasi tidak lagi aman.

"Anak-anak seharusnya belajar membaca dan berhitung, bukan menyaksikan ketakutan dan kekerasan bersenjata. Ini trauma jangka panjang yang akan menghancurkan proses tumbuh kembang mereka," ujar Arief.

Arief menegaskan, tragedi pembunuhan Frengki bukan yang pertama. Pada 21 Maret 2025, seorang guru perempuan bernama Rosalia Rerek Sogen (30) juga menjadi korban serangan KKB di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, di mana ia ditemukan tewas setelah penyerangan terhadap tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di lokasi tersebut. Rosalia dikenal sebagai guru yang berdedikasi tinggi sejak bertugas di pedalaman Papua. 

"Dulu bu guru Rosalia Rerek Sogen, kini guru Frengki. Korbannya pendidik lagi, lokasinya wilayah pendidikan. Ini menunjukkan pola teror yang berulang dan disengaja," tegas Arief.

Menurutnya, pembunuhan terhadap guru perempuan dan laki-laki di wilayah yang sama menunjukkan bahwa KKB menjadikan tenaga pendidik sebagai target strategis untuk menciptakan ketakutan dan kekosongan pendidikan.

"Jika bu guru dan guru terus dibunuh, siapa yang mau mengajar di Yahukimo? Ini bukan kebetulan, ini strategi teror," ujarnya.

Arief menambahkan, dalam tiga tahun terakhir, kekerasan KKB terhadap guru dan tenaga pendidikan terus terjadi, mulai dari pembunuhan, penembakan, pengusiran paksa, hingga perusakan fasilitas pendidikan di wilayah pegunungan Papua, termasuk Yahukimo.

"Setiap guru yang dibunuh atau dipaksa pergi berarti ribuan jam belajar hilang, sekolah ditutup, anak-anak putus sekolah. Ini efek domino yang merusak fondasi pembangunan SDM Papua," katanya.

Menurut Arief, kekerasan bersenjata terhadap dunia pendidikan akan memperlebar ketertinggalan dan memperpanjang lingkaran kemiskinan struktural di Papua.

"Bagaimana mungkin bicara Papua Emas dan keadilan pembangunan jika guru diburu dan sekolah dijadikan sasaran teror? Pembangunan generasi muda Papua bisa gagal total," ujarnya.

Ia menegaskan, tindakan KKB justru menghancurkan anak-anak Papua sendiri.

"Ini ironi paling kejam. Mengatasnamakan Papua, tapi yang dihancurkan justru pendidikan anak Papua," kata Arief.

Dari sisi hukum, Arief menilai pembunuhan guru di Yahukimo memenuhi unsur kejahatan kemanusiaan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, karena dilakukan secara sengaja, berulang, dan menargetkan penduduk sipil.

"Sekolah adalah ruang sipil yang dilindungi hukum. Menyerang sekolah dan guru adalah kejahatan berat menurut hukum nasional dan prinsip HAM internasional," pungkasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI