Dukung Strategi Presiden Prabowo, AHY Beberkan Lima Pilar Ekonomi Baru

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 08 Februari 2026 | 20:22 WIB
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI), Agus Harimurti Yudhoyono (SinPo.id/ Dok. Partai Demokrat)
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI), Agus Harimurti Yudhoyono (SinPo.id/ Dok. Partai Demokrat)

SinPo.id - Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menawarkan peta jalan ekonomi baru, bagi masa depan ekonomi Indonesia. 

Dalam forum Yudhoyono Dialogue Forum bertajuk “The New Economy, New Road to Prosperity” di Museum dan Galeri SBY–ANI, Pacitan, Jawa Timur, AHY menegaskan, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya sekadar angka statistik.

"Indonesia harus maju, bukan sekadar tumbuh. Pertumbuhan harus bertransformasi menjadi kemakmuran yang adil dan bisa dirasakan langsung di kantong serta meja makan rakyat," ujar Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan ini, dalam keterangannya, Minggu, 8 Februari 2026.

Bagi generasi muda yang menghadapi disrupsi teknologi dan ketatnya persaingan global, AHY menguraikan lima pilar "Ekonomi Baru" yang konkret dan relevan 

Pertama, Infrastruktur Dasar dan Keadilan. Bukan sekadar aspal dan semen, tapi sarana keadilan sosial untuk menurunkan biaya logistik agar harga kebutuhan pokok merata hingga ke pelosok.

Kedua, Perumahan Layak. Fokus pada hunian terjangkau sebagai fondasi martabat, produktivitas dan penciptaan lapangan kerja.

Ketiga, Konektivitas Fisik dan Digital. Untuk memperkuat persatuan nasional, dan memastikan UMKM serta masyarakat di daerah memiliki akses transportasi dan internet yang setara.

Keempat, Investasi Manusia. Prioritas pada kualitas pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama bersaing di level dunia.

Kelima, Akselerasi Teknologi dan AI. Memanfaatkan kecerdasan buatan untuk pelayanan publik yang lebih cepat dan transparan, dengan tetap berlandaskan etik, regulasi yang adaptif serta penguatan talenta digital.

AHY mengingatkan tantangan ke depan, mulai dari krisis iklim hingga dinamika geopolitik, memerlukan kebijakan yang jitu, bukan sekadar jargon. 

"Kemakmuran adalah pengalaman hidup yang lebih baik bagi nelayan, buruh, hingga konten kreator muda,” kata dia.
 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI