Mendag: Neraca Perdagangan RI Sepanjang 2025 Surplus Rp691 Triliun

Laporan: Tio Pirnando
Sabtu, 07 Februari 2026 | 15:41 WIB
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso (SinPo.id/ Dok. Kemendag)
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso (SinPo.id/ Dok. Kemendag)

SinPo.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mencatat, neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025, surplus sebesar US$ 41,05 miliar atau setara Rp 691,91 triliun (kurs Rp 16.856/dolar). Nilai ini tumbuh 31,03 persen dibanding surplus 2024 yang mencatatkan US$ 31,33 miliar atau Rp528 triliun. 

"Neraca perdagangan kita pada 2025 mencatatkan surplus US$ 41,05 miliar, meningkat hingga 31,03 persen. Tentu banyak tantangan global saat ini yang kita hadapi, tapi kita tetap optimistis bahwa kinerja perdagangan kita akan tumbuh dengan baik," kata Budi dalam keterangannya, Sabtu, 7 Februari 2026. 

Budi menerangkan, surplus 2025 ini dihasilkan di tengah tantangan proteksionisme global dan penurunan harga komoditas utama. Capaian ini memberikan optimistisme dalam menghadapi tantangan perdagangan global pada 2026. 

Selain itu, Indonesia juga mencatatkan surplus bulanan sebesar US$ 2,51 miliar pada periode Desember 2025. Capaian ini menjadi surplus yang ke-68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

"Mudah-mudahan, dalam kondisi apa pun di pasar global, kita dapat terus meningkatkan ekspor," turunnya. 

Dari sisi ekspor (migas dan nonmigas), tercatat pertumbuhan 6,15 persen menjadi US$ 282,91 miliar pada 2025 dari US$ 266,53 miliar pada 2024. Pasar utama Indonesia, yaitu Tiongkok, Amerika Serikat (AS), India, Jepang, dan Singapura. 

"Capaian ekspor 2025 meningkat 6,15 persen dibanding tahun sebelumnya. Artinya, dengan tantangan global yang ada dan harga komoditas yang turun, kita tetap tumbuh," paparnya. 

Dari sisi ekspor nonmigasnya, tercatat pertumbuhan sebesar 7,66 persen pada 2025 menjadi sebesar US$ 269,84 miliar dari 2024 yang sebesar US$ 250,65 miliar. Negara dengan pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi adalah Swiss, Singapura, Uni Emirat Arab, Tailan, dan Bangladesh. Dari sisi kawasannya, pertumbuhan ekspor tertinggi ada di Asia Tengah (59,39) persen, Afrika Barat (56,66 persen), dan Eropa Barat (43,95 persen).

Struktur ekspor Indonesia untuk 2025 masih didominasi sektor industri manufaktur dengan kontribusi sebesar 80,27 persen. Kontribusi diikuti sektor pertambangan dan lainnya (12,67) persen, migas (4,62 persen), serta pertanian (2,43 persen). Sektor pertanian mencatatkan peningkatan yang tertinggi dibandingkan 2024, yaitu sebesar 21,01 persen disusul sektor industri pengolahan yang tumbuh 14,47 persen.

Di sisi lain, struktur impor Indonesia 2025 masih didominasi impor bahan baku dan bahan penolong yang mencapai 70,00 persen dari total impor nasional. Selanjutnya, diikuti impor barang modal (20,73 persen) dan barang konsumsi (9,27 persen). 

Impor barang konsumsi justru turun sebesar 1,35 persen dibanding 2024, sementara impor bahan baku dan bahan penolong turun sebesar 0,83 persen. Sebaliknya, impor barang modal meningkat signifikan sebesar 20,06 persen, mengindikasikan adanya peningkatan investasi dan ekspansi kapasitas produksi di dalam negeri. 

"Komposisi ini mencerminkan aktivitas industri dalam negeri yang masih kuat karena impor lebih banyak digunakan sebagai input produksi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kinerja ekspor," tukasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI