Kemenkes Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal untuk Atasi Triple Burden Gizi

Laporan: Sigit Nuryadin
Jumat, 06 Februari 2026 | 16:52 WIB
Ilustrasi makanan bergizi (SinPo.id/ Dok. Kemenkes)
Ilustrasi makanan bergizi (SinPo.id/ Dok. Kemenkes)

SinPo.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali menegaskan pentingnya pemanfaatan pangan lokal sebagai strategi utama pemenuhan gizi seimbang masyarakat. Penegasan itu disampaikan dalam peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 yang mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal" pada Kamis, 5 Februari 2026, kemarin. 

Adapun Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan menyatakan momentum HGN menjadi peringatan bagi masyarakat untuk memperbaiki pola konsumsi di tengah masih kompleksnya masalah gizi di Indonesia. Webinar Nasional yang digelar tersebut menyoroti masih kuatnya tantangan triple burden of malnutrition, yakni kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan kekurangan zat gizi mikro yang terjadi secara bersamaan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Lovely Daisy, memaparkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang menunjukkan satu dari lima balita masih mengalami stunting. 

Menurut dia, pada saat yang sama, 37,8 persen penduduk dewasa tercatat mengalami kelebihan berat badan.

“Kondisi ini diperparah dengan pola makan yang kurang beragam. Sebanyak 96,7 persen masyarakat kita kurang makan sayur dan buah,” kata Daisy dalam keterangan resminya, Jumat, 6 Februari 2026.

Dia menuturkan, melalui slogan Sehat Dimulai dari Piringku, pemerintah mendorong penerapan konsep Isi Piringku dengan memanfaatkan pangan lokal yang kaya nutrisi.

Sementara itu, Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, Rimbawan mengatakan, pangan lokal memiliki keunggulan dibandingkan pangan impor, baik dari sisi gizi maupun aksesibilitas.

“Pangan lokal lebih segar karena rantai pasok yang pendek, mudah diakses, dan harganya lebih terjangkau. Selain memenuhi gizi, mengonsumsi pangan lokal juga berdampak nyata bagi ekonomi petani dan memperkuat identitas budaya kita,” ujar Rimbawan.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menyoroti hubungan erat antara pola makan dan meningkatnya penyakit tidak menular. Ia menyebut konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan, terutama di wilayah perkotaan menjadi pemicu utama hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

“Kajian bersama BPOM menunjukkan, jika kita menyelaraskan kebijakan pengendalian asam lemak trans dan reformulasi makanan, kita bisa mencegah 310 ribu kematian dan 580 ribu penyakit jantung,” kata Siti Nadia. 

Menurutnya, pengaturan batas maksimum GGL serta penguatan kebijakan label pangan menjadi langkah krusial dalam pengendalian risiko penyakit tidak menular.

"Peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 ini diharapkan menjadi momentum kolaborasi lintas sektor untuk menjadikan gizi seimbang berbasis pangan lokal sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing," tandasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI