KP2MI: KUR Pekerja Migran Perkuat Program SMK Go Global

Laporan: Tio Pirnando
Rabu, 04 Februari 2026 | 21:09 WIB
Wamen P2MI Christina Aryani. (SinPo.id/dok. KP2MI)
Wamen P2MI Christina Aryani. (SinPo.id/dok. KP2MI)

SinPo.id - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani menegaskan, program SMK Go Global tidak hanya fokus pada pelatihan, tapi juga memastikan lulusan sekolah menengah kejuruan dapat bekerja di luar negeri secara aman, terampil, dan terlindungi. Karenanya, program ini memerlukan kesiapan menyeluruh, termasuk pembiayaan penempatan bagi peserta program yang juga calon pekerja migran Indonesia. 

"Output program SMK Go Global adalah penempatan kerja di luar negeri. Untuk itu, tentu ada biaya penempatan yang perlu dipenuhi. Ini kita siapkan melalui skema KUR (Kredit Usaha Rakyat) Pekerja Migran," kata Christina di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026. 
 
Christina menyampaikan, KUR Pekerja Migran akan diluncurkan secara serentak pada Maret 2026 di seluruh Indonesia. Program ini juga melibatkan 17 bank penyalur dengan total plafon pembiayaan mencapai Rp331 miliar.

"Masing-masing bank siap menyalurkan KUR Pekerja Migran hingga Rp100 juta per orang, dengan bunga hanya 6 persen per tahun yang disubsidi pemerintah. Skema ini tanpa agunan, tapi kontrak kerja menjadi syarat utama," ungkapnya. 

Christina berharap, kehadiran KUR Pekerja Migran dapat menghilangkan hambatan pembiayaan bagi lulusan SMK yang telah mengikuti pelatihan untuk berangkat memenuhi kebutuhan kerja di luar negeri secara prosedural.

Terkait negara tujuan penempatan, Christina mengatakan, peluang penempatan sangat beragam, mulai dari negara konvensional seperti Malaysia, kawasan Timur Tengah, Jepang, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa Timur.

Bahkan, salah satu peluang besar datang dari Turki, yang tahun ini diperkirakan memerlukan hingga 40 ribu pekerja, terutama di hospitality.

"Di banyak negara, kebutuhan caregiver dan welder (juru las) sangat tinggi, sementara tenaga lokal mereka terbatas. Ini peluang besar bagi Indonesia karena kita punya advantage. Sekarang juga semakin banyak sekolah vokasi yang membuka pelatihan keterampilan pengelasan," katanya.

Disinggung soal target Program SMK Go Global yang mencapai 500 ribu orang, terdiri atas 300 ribu lulusan SMK dan 200 sisanya dari umum, Christina menyebut, target itu dinamis dan akan disesuaikan dengan kesiapan peserta serta durasi pelatihan.

"Pelatihan bahasa bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan, pelatihan keterampilan seperti welder juga membutuhkan waktu. Karena itu, kami akan mengombinasikan peserta yang sudah memiliki keterampilan dengan yang masih perlu pelatihan tambahan. Program ini harus fleksibel dan terus disesuaikan," ujarnya. 

Dia menambahkan, kementeriannya telah melakukan uji coba penempatan sebanyak 200 pekerja terampil ke Korea Selatan pada akhir 2025 dan 21 ribu orang telah diberangkatkan melalui skema reguler pada Januari-Februari 2026. 

"Untuk SMK Go Global, kami masih menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan. Begitu itu selesai, program ini siap dijalankan," tandasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI