Trump Pertimbangkan Serangan Cepat ke Iran, Ancaman Perang Regional Membayangi

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 03 Februari 2026 | 01:49 WIB
IRAN
IRAN

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan meminta opsi dari lingkaran dalamnya untuk melakukan serangan cepat dan tegas terhadap Iran, menyusul janji bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” bagi para demonstran yang dilaporkan menjadi korban penindasan. Namun, Trump menegaskan tidak menginginkan langkah militer yang berujung pada konflik jangka panjang di Timur Tengah.

Sejumlah analis dan penasihat Trump mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa opsi serangan cepat tanpa eskalasi besar nyaris tidak ada. Mereka merujuk pada peringatan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan memicu perang regional dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai target utama.

“Orang-orang Amerika harus tahu, jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional,” kata Khamenei, Minggu 2 Februari 2026 seperti dikutip media semi-resmi Iran.

Menanggapi pernyataan tersebut, Trump merespons santai. “Tentu saja dia akan mengatakan itu,” ujarnya kepada wartawan sebelum menghadiri sebuah acara di Mar-a-Lago. “Mudah-mudahan kita bisa membuat kesepakatan. Jika tidak, kita akan lihat apakah dia benar atau tidak.”

Trump sebelumnya kerap mengedepankan pendekatan “muscular diplomacy”, termasuk mengerahkan armada militer besar ke kawasan sebagai tekanan terhadap Teheran. Ia juga menyinggung keberadaan kapal-kapal perang AS di kawasan. “Kami punya kapal terbesar dan terkuat di dunia di sana,” kata Trump.

Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah negara Timur Tengah mendorong upaya diplomasi darurat. Turki, Qatar, dan Mesir disebut tengah mengupayakan pertemuan tingkat tinggi antara pejabat AS dan Iran di Turki pekan ini. Pertemuan itu berpotensi melibatkan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Meski ada sinyal kesediaan bernegosiasi, kedua pihak masih berbeda pandangan terkait isu krusial, mulai dari pengayaan nuklir Iran, program rudal balistik, hingga dukungan Teheran terhadap kelompok milisi di kawasan. Iran menegaskan pembicaraan hanya akan fokus pada isu nuklir dan meminta jaminan tidak akan diserang selama proses dialog berlangsung.

Kekhawatiran regional kian menguat. Ali Vaez dari International Crisis Group memperingatkan bahwa serangan AS terhadap Iran dapat memicu kekacauan luas, mulai dari gelombang pengungsi hingga instabilitas dan militansi yang sulit dikendalikan.

Iran sendiri memiliki sejumlah opsi balasan jika diserang, termasuk serangan siber, penargetan kapal dagang, aksi melalui kelompok proksi, hingga penutupan Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan minyak global. Negeri itu juga memiliki arsenal rudal balistik dan drone jarak jauh yang mampu menjangkau pangkalan militer di Timur Tengah hingga Eropa Tenggara.

Ketegangan ini semakin diperumit oleh isu nuklir. Laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya menyebut stok uranium Iran yang diperkaya mendekati tingkat senjata meningkat signifikan. Meski Teheran bersikeras program nuklirnya untuk tujuan damai, para analis memperingatkan bahwa eskalasi militer dan sanksi tambahan justru dapat mendorong Iran mengambil keputusan ekstrem.

Dengan pengerahan armada dan pesawat tempur AS ke Timur Tengah, risiko bentrokan bersenjata dinilai kian nyata. Upaya diplomasi pun menjadi taruhan terakhir untuk mencegah konflik yang lebih luas di kawasan.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI