PMI Manufaktur Januari Ekspansif, Kemenkeu: Bukti Fundamental Industri Tetap Terjaga

Laporan: Tio Pirnando
Senin, 02 Februari 2026 | 20:17 WIB
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu (SinPo.id/ Dok. Kemenkeu)
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu (SinPo.id/ Dok. Kemenkeu)

SinPo.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur tetap ekspansif dan meningkat ke 52,6 pada Januari 2026 dari 51,2 bulan sebelumnya. Penguatan terutama didorong meningkatnya permintaan domestik dan kenaikan output produksi. 

"Perkembangan ini menjadi sinyal optimis, sekaligus menegaskan ketahanan serta daya saing eksternal Indonesia di tengah berbagai tantangan domestik maupun global," kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu, dalam keterangannya, Senin, 2 Februari 2026. 

Febri menyampaikan, meskipun masih dihadapkan pada gangguan rantai pasok global serta pelemahan pesanan ekspor, fundamental industri nasional tetap terjaga. Sejalan dengan perkembangan tersebut, optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir, yang menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan ekspansi ekonomi nasional.

"Pemerintah akan terus memperkuat iklim usaha dan mendorong daya saing industri melalui berbagai langkah, termasuk percepatan penyelesaian hambatan usaha (debottlenecking) guna memperkuat iklim investasi," ujarnya. 

Febri menegaskan, optimisme ini didukung oleh indikasi perbaikan permintaan eksternal yang tercermin pada kinerja sektor manufaktur mitra dagang utama. 

Pada Januari 2026, PMI India tetap ekspansif di 56,8, sementara Amerika Serikat bertahan di zona ekspansi pada 51,9. Di tingkat regional, PMI manufaktur ASEAN secara agregat tercatat 52,8, ditopang oleh kinerja Filipina (52,9) dan Vietnam (52,5).

Kinerja sektor manufaktur sejalan dengan berbagai indikator ekonomi domestik lainnya menunjukkan tren yang positif pada akhir tahun 2025 dan diperkirakan akan berlanjut ke depan.

Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 4,4 persen (yoy), didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat. 

Aktivitas konsumsi juga tercermin dari kinerja penjualan kendaraan bermotor yang tumbuh tinggi pada akhir 2025, dengan penjualan sepeda motor meningkat 14,5 persen dan penjualan mobil tumbuh 17,9 persen (yoy). 

Penguatan aktivitas ekonomi turut tercermin dari meningkatnya penjualan listrik yang tumbuh 4,8 persen pada akhir tahun, dengan konsumsi listrik pada segmen bisnis mencatatkan pertumbuhan tertinggi. Positifnya aktivitas ekonomi turut mendorong Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 yang tetap berada pada level optimis sebesar 123,5.

"Perkembangan positif juga tercermin dari kinerja perdagangan luar negeri Indonesia. Pada Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus US$2,51 miliar, lebih tinggi US$0,42 miliar dibandingkan Desember 2024," ucapnya. 

Dia melanjutkan untuk ekspor naik 11,64 persen (yoy), dengan ekspor nonmigas tumbuh 13,72 persen (yoy), terutama ditopang ekspor industri pengolahan yang naik 19,26 persen. Hal ini mencerminkan semakin kuatnya kontribusi sektor manufaktur dalam mendorong nilai tambah ekspor nasional. 

"Secara kumulatif Januari–Desember 2025, ekspor tercatat USD282,91 miliar, meningkat 6,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, impor Desember 2025 mencapai US$23,83 miliar, naik 10,81 persen (yoy), dengan impor barang modal meningkat 34,66 persen, sejalan dengan ekspansi investasi dan produksi domestik," tandasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI