Bapanas Pastikan Stok Pangan Pokok Nasional Aman hingga Idulfitri 2026

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 31 Januari 2026 | 02:22 WIB
Ilustrasi pedagang beras. (SinPo.id/Ashar)
Ilustrasi pedagang beras. (SinPo.id/Ashar)

SinPo.id - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberi kepastian bagi masyarakat Indonesia bahwa ketersediaan pangan pokok strategis secara nasional masih aman. Menjelang Ramadan sampai Idulfitri yang hingga Maret nanti, pemerintah memastikan ketercukupan stok sembari beriringan dengan program intervensi pangan.

"Sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman, agar Bapanas terus memastikan ketersediaan bagi masyarakat, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri dalam waktu dekat ini," kata Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas Maino Dwi Hartono dalam keterangannya, dikutip Jumat, 30 Januari 2026.

Terkait itu, dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, untuk komoditas seperti beras, daging ayam ras, telur ayam ras, gula konsumsi, dan daging sapi/kerbau masih mencukupi untuk tiga bulan ke depan. Ini karena Ramadan dan Idulfitri yang diperkirakan akan dimulai pada tengah Februari sampai Maret.

Untuk beras diproyeksikan total ketersediaan secara nasional Januari sampai Maret dapat mencapai 22,2 juta ton. Ini berasal dari stok awal tahun di 12,4 juta ton ditambah produksi dalam tiga bulan yang dapat mencapai 9,8 juta ton. Sementara, total kebutuhan konsumsi berasa di 7,7 juta ton sehingga masih ada surplus di akhir Maret sebanyak 14,5 juta ton.

Daging ayam ras juga mencukupi dengan total ketersediaan selama 3 bulan dapat mencapai 1,6 juta ton dari stok awal tahun di 252,3 ribu ton ditambah produksi Januari-Maret 1,4 juta ton. Surplus dapat tercipta karena kebutuhan konsumsi daging ayam ras di angka 1,01 juta ton.

Selanjutnya untuk ketersediaan telur ayam ras sampai Maret diproyeksikan 1,9 juta ton. Ini dari stok awal tahun di 92,8 ribu ton ditambah produksi 1,8 juta ton. Sementara konsumsi nasional Januari-Maret 1,67 juta ton. Jadi masih akan ada surplus di akhir Maret 305,8 ribu ton.

Gula konsumsi pun idem. Ketersediaan sampai Maret dapat mencapai 1,46 juta ton yang berasal dari stok awal tahun di 1,44 juta ton ditambah produksi sampai Maret 26,7 ribu ton. Ini masih dapat memenuhi konsumsi nasional Januari-Maret 712,5 ribu ton. Surplus di akhir maret diperkirakan di 751,5 ribu ton.

Tak ketinggalan, komoditas daging sapi/kerbau juga dipastikan masih cukup aman sampai Maret. Total ketersediaannya Januari sampai Maret dapat mencapai 185,4 ribu ton berasal dari stok awal tahun 41,6 ribu ton ditambah produksi dan hasil pemotongan sapi/kerbau bakalan di angka 125,2 ribu ton serta impor daging beku 18,5 ribu ton. Sementara angka konsumsi nasional berada di 179 ribu ton.

"Di samping itu, Bapanas bersama stakeholder pangan juga akan menggencarkan berbagai program intervensi pangan yang dapat menyentuh langsung ke masyarakat. Misalnya pasar murah seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) dan penyaluran SPHP beras," tambah Direktur Maino.

Adapun program GPM sendiri sampai minggu ketiga Januari 2026 telah direalisasikan sebanyak 264 kali di 106 kabupaten/kota. Capaian di awal tahun ini meningkat 52,6 persen dibandingkan Januari tahun lalu yang terlaksana 173 kali. Bapanas akan terus melesatkan kuantitas GPM sampai Idulfitri mendatang.

Untuk pelaksanaan program SPHP beras di Januari 2026 masih terus dijalankan Perum Bulog sebagai perpanjangan program SPHP beras tahun 2025. Realisasi penjualan selama Januari 2026 ini telah mencapai sekitar 63 ribu ton.

Pemerintah pun berkomitmen menjaga harga pangan pokok strategis selama HBKN Ramadan dan Idulfitri. Salah satunya dengan peningkatan pengawasan melalui Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Tahun 2026. Pengawasan akan dilakukan mulai dari hulu seperti produsen dan distributor, hingga hilir seperti toko besar, pedagang eceran, dan ritel modern.

Sementara, dalam konferensi pers Rakor hari ini, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan, menyatakan pemerintah bersama segenap stakeholder akan melakukan akselerasi distribusi pangan sebagai antisipasi cuaca. Ini penting sebelum musim penghujan semakin meningkat.

"Kali ini kita ingin fokus kepada jalur distribusinya. Oleh karena itu, terkait dengan ketersediaan semua barang kebutuhan pokok, itu tidak ada masalah. Yang perlu menjadi perhatian adalah faktor cuaca. Secara umum faktor cuaca itu normal. Namun perlu diwaspadai di Februari dan Maret. Itu ada beberapa wilayah tertentu seperti Sulawesi dan Papua akan ada kemungkinan hujan," urai Iqbal.

"Nah oleh demikian, kami tadi bersepakat semua para distributor termasuk BUMN Pangan, baik Bulog maupun ID FOOD, itu sudah melancarkan pendistribusian barang kebutuhan pokok kepada daerah-daerah di awal ini, sehingga manakala memasuki musim penghujan di bulan Februari dan Maret, itu barangnya sudah sampai di tempat," terang Dirjen Iqbal.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI