PBNU Terima Permohonan Maaf Gus Yahya, Posisi Ketua Umum Dipulihkan

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 30 Januari 2026 | 05:23 WIB
Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf (SinPo.id/ Ashar)
Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf (SinPo.id/ Ashar)

SinPo.id - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyatakan PBNU telah menerima permohonan maaf dari KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Bersamaan dengan itu, PBNU juga memulihkan posisi Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Pleno PBNU yang digelar secara luring dan daring serta diikuti oleh jajaran pengurus PBNU.

“Rapat pleno menyepakati untuk menerima permohonan maaf KH Yahya Cholil Staquf atas kelalaian dan ketidakcermatan dalam mengundang narasumber AKN NU serta pengelolaan keuangan PBNU yang belum memenuhi kaidah akuntabilitas,” ucap Rais Aam dalam keterangan tertulis, Kamis, 29 Januari 2026.

Dalam rapat yang sama, PBNU juga menerima pengembalian mandat dari KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU. Rais Aam menyampaikan bahwa pengembalian mandat tersebut disampaikan secara resmi melalui surat tertulis.

“Kita menerima pengembalian mandat dari KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum. Saya menerima suratnya, dan kami mengucapkan terima kasih atas langkah yang sangat terhormat ini,” katanya.

Selain itu, Rapat Pleno PBNU menyepakati sejumlah langkah perbaikan tata kelola organisasi, khususnya dalam aspek administrasi dan keuangan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah meninjau kembali berbagai surat keputusan yang telah diterbitkan.

“Kita juga meninjau kembali seluruh surat keputusan PBNU, PCNU, dan SK lainnya yang diterbitkan tanpa tanda tangan lengkap Rais Aam, Katib Aam, Ketua Umum, dan Sekretaris,” bebernya.

Rais Aam menegaskan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan organisasi ke depan, termasuk pembenahan sistem administrasi dan keuangan PBNU.

“Termasuk memperbaiki tata kelola keuangan dan sumber daya PBNU sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas, serta memulihkan sistem Digdaya persuratan PBNU sebagaimana kondisi sebelum 23 November 2025,” katanya.

Menutup keterangannya, Rais Aam mengajak seluruh jajaran PBNU untuk membuka lembaran baru dan kembali menata niat dalam berkhidmat di Nahdlatul Ulama.

“Keberadaan kita di jam’iyah ini hanyalah untuk berkhidmat. Tidak ada rebutan. Yang ada adalah khidmat dan ngalap barokah dari para muassis dan generasi salafus shalih,” tandasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI