CropLife Tawarkan SPMF untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
SinPo.id - CropLife Indonesia menyodorkan Sustainable Pesticide Management Framework (SPMF) sebagai kerangka nasional pengelolaan pestisida berkelanjutan di Indonesia. Hal ini untuk memajukan dan meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat ketahanan pangan terhadap perubahan iklim.
"SPMF bertujuan memperkuat kapasitas nasional dalam merancang kebijakan pengelolaan produk perlindungan tanaman yang berkelanjutan, yang melindungi kesehatan manusia dan lingkungan sekaligus mengoptimalkan produktivitas pertanian," kata Chairman CropLife Indonesia, Kukuh Ambar Waluyo, dalam peluncuran Kerangka Nasional Pengelolaan Pestisida Berkelanjutan, Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026.
Menurut Kukuh, berbagai program strategis pemerintah, mulai dari penyaluran pupuk bersubsidi dan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) hingga perbaikan sistem irigasi, seluruhnya menjadi fondasi penting dalam transisi Indonesia dari pertanian konvensional menuju pertanian modern.
Sebagai negara dengan potensi pertanian yang sangat besar, Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks, antara lain perubahan iklim, dinamika geopolitik global, alih fungsi lahan, keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan pertanian, serta kebutuhan untuk beradaptasi dengan teknologi pertanian modern.
"Di tengah tantangan tersebut, pemanfaatan inovasi dan sarana produksi pertanian, termasuk benih, pupuk, dan produk perlindungan tanaman, harus dikelola secara aman, bertanggung jawab, dan berbasis ilmu pengetahuan," ujarnya.
Oleh karena itu, CropLife Indonesia, sebagai asosiasi nirlaba yang berafiliasi dengan CropLife International dan CropLife Asia, memperkenalkan SPMF sebagai kerangka kerja kolaboratif dan sistematis untuk mendukung para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan.
Dia menerangkan, SPMF mencerminkan nilai-nilai SPIRIT yang dijunjung oleh CropLife, yaitu Sustainable (Berkelanjutan), Partnership (Kemitraan), Integrity (Integritas), Responsibility (Tanggung Jawab), Innovation (Inovasi), dan Technology (Teknologi), yang menekankan praktik ramah lingkungan, kolaborasi lintas sektor, etika, akuntabilitas, serta penerapan teknologi maju.
Kukuh menyampaikan, saat ini SPMF telah diimplementasikan di sejumlah negara, antara lain Kenya, Maroko, Mesir, Cile, Guatemala, Thailand, dan Vietnam.
"Di Indonesia, program ini dilaksanakan dengan perkiraan anggaran sebesar US$ 1,5 juta selama lima tahun, melibatkan kolaborasi di tingkat nasional dan daerah, termasuk standardisasi MRL, pengembangan regulasi drone pertanian, dashboard biosekuriti, serta inisiatif pembentukan National Poison Control Center," tandasnya.

