Menteri LH Soroti Urbanisasi Masif sebagai Faktor Perubahan Lahan di Cisarua

Laporan: Tio Pirnando
Senin, 26 Januari 2026 | 13:49 WIB
Ilustrasi proses evakuasi korban longsor di Cisarua. (SinPo.id/dok. KemenPU)
Ilustrasi proses evakuasi korban longsor di Cisarua. (SinPo.id/dok. KemenPU)

SinPo.id - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyoroti aspek urbanisasi yang menjadi salah satu faktor perubahan tata guna lahan di sekitar area longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. 

"Sebenarnya ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika, itu semua di daerah subtropis," kata Hanif dalam keterangannya, Senin, 26 Januari 2026. 

Hanif melanjutkan, tanaman subtropis biasanya tumbuh di ketinggian 800-2.000 meter di atas permukaan laut, sementara karakter wilayah lokal berbeda.

"Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini, sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini," jelasnya.

Oleh sebab itu, tim ahli KLH diturunkan untuk menilai keadaan lingkungan yang terjadi secara saintis, sehingga upaya yang dilakukan terstruktur.

"Kami menurunkan tim ahli sebagaimana kami lakukan di Sumatra karena kalau bicara lingkungan ini harus saintis, tidak bisa main kira-kira guna menentukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut," jelasnya.

Hanif memastikan, kajian ini tak hanya melihat dampak fisik dari longsor, tetapi juga menilai aspek ekologis, seperti kondisi tanah, vegetasi, dan potensi risiko bencana susulan. Dengan demikian, setiap langkah mitigasi bisa dilakukan secara tepat.

Untuk memastikan kajian ini berjalan tepat, lanjut Hanif, tim ahli akan segera bergabung dengan pemerintah kabupaten di bawah pimpinan bupati.

"Kita akan melakukan pendalaman sangat detil terhadap landscape ini. Dan kemudian akan dilakukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut. Kami mungkin perlu waktu 1-2 minggu untuk menyelesaikan kajian detil bersama para ahli dari akademisi, dari badan riset dan lain-lain," tukasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI