Harga Emas Dunia Stabil di Level Tinggi, Goldman Sachs Proyeksikan Tembus US$5.400 per Ons pada 2026

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 25 Januari 2026 | 06:28 WIB
emas (pixabay)
emas (pixabay)

SinPo.id -  Harga emas dunia kembali bergerak stabil di level tinggi pada perdagangan Kamis 23 Januari 2026, didukung oleh permintaan aset lindung nilai (safe haven) yang tetap kuat dari bank sentral serta pelemahan dolar Amerika Serikat. Di tengah dinamika geopolitik global dan ketidakpastian kebijakan ekonomi, Goldman Sachs bahkan menaikkan proyeksi harga emas hingga akhir 2026 menjadi US$5.400 per ons atau Rp 90.598,23.

Berdasarkan data perdagangan, emas berjangka COMEX (GC=F) tercatat relatif stagnan di kisaran US$4.835,10 per troy ounce, sementara harga spot emas melemah tipis 0,7% ke level US$4.829,94. Meski demikian, harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$4.887,82 pada sesi sebelumnya.

Stabilisasi harga emas terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meredakan ketegangan perdagangan dengan Uni Eropa. Trump menarik kembali ancaman tarif terhadap Eropa serta mengendurkan retorika keras terkait isu Greenland, langkah yang sempat menekan harga emas lebih dari 1% di awal sesi perdagangan.

Namun demikian, analis menilai ketidakpastian global masih cukup besar untuk menopang harga logam mulia. “Pasar memang bereaksi terhadap pernyataan Trump, tetapi kekhawatiran global belum sepenuhnya hilang. Hal ini melindungi harga emas dan perak dari tekanan penurunan yang lebih dalam,” ujar Soni Kumari, commodity strategist ANZ.

Optimisme terhadap emas semakin menguat setelah Goldman Sachs merevisi naik proyeksi harga emas akhir 2026 dari US$4.900 menjadi US$5.400 per ons. Bank investasi tersebut menilai diversifikasi aset oleh investor swasta serta bank sentral di negara berkembang akan terus berlanjut.

“Kami berasumsi pembelian emas oleh sektor swasta yang bertujuan melindungi risiko kebijakan global tidak akan dilikuidasi pada 2026. Hal ini menaikkan titik awal proyeksi harga emas kami,” tulis Goldman Sachs dalam catatannya.

Analis global eToro, Lale Akoner, menilai lonjakan harga emas mencerminkan melemahnya kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan tradisional seperti obligasi pemerintah dan mata uang fiat. Ia menyoroti meningkatnya risiko geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral, hingga tekanan pada pasar obligasi Jepang.

“Emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset strategis jangka panjang. Investor kini melihat emas bukan sekadar lindung nilai jangka pendek, tetapi sebagai asuransi portofolio di tengah ekonomi global yang makin terfragmentasi,” jelas Akoner. Ia juga menambahkan bahwa bank sentral, termasuk Polandia dan Bolivia, terus menambah cadangan emas mereka.

Sementara itu, pergerakan komoditas lain menunjukkan arah yang berbeda. Harga minyak dunia melemah tipis setelah sebelumnya menguat. Brent crude turun 0,4% ke level US$65,00 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,25% ke US$60,47 per barel. Pelemahan dipicu oleh meningkatnya stok minyak mentah AS, meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menopang harga.

Di pasar valuta asing, pound sterling melemah terhadap dolar AS dan euro seiring meredanya permintaan aset safe haven. Pound tercatat turun 0,1% ke US$1,3411, sementara indeks dolar AS relatif stabil di level 98,77.

Secara keseluruhan, pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Dalam kondisi tersebut, emas tetap menjadi primadona sebagai aset lindung nilai utama, dengan prospek jangka panjang yang dinilai masih sangat kuat.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI