Mencari Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 23 Januari 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id)
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id)

Proses pencarian oleh Tim SAR gabungan menghadapi kesulitan, selain intensitas hujan besar juga medan terjal.

SinPo.id -  Pesawat ATR 42-500 jatuh di puncak Gunung Bulusaraung, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Ballocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan pada 17 Januari 2026.  Pesawat nomor registrasi PK-THT yang dioperasikan Indonesia Air Transport tersebut jatuh di kawasan pegunungan yang lokasinya sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

“Pesawat tersebut terbang dengan jumlah manifest 10 orang, terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang dari KKP,” ujar Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi, saat rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Selasa 20 Januari 2026.

Menurut Dudy pesawat tersebut disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Sabtu 17 janurai 2026 pukul 08.08 WIB untuk pengawasan atau surveillance di wilayah perairan Indonesia yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab KKP.

Secara kronologis Dudy menyebutkan, pada pukul 12.23 WITA, Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center atau MATSC mengarahkan pesawat untuk mendekat ke landasan Pacu Runway 21, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Namun ATC mengidentifikasi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya.

“Sehingga ATC memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat, serta menyampaikan instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur," ujar Dudy menambahkan.

Namun komunikasi antara ATC dengan pesawat terputus atau lost contact sehingga ATC segera mendeklarasikan fase darurat atau distress phase sesuai prosedur.  Kemudian Airnav Indonesia dan MATSC berkoordinasi dengan Basarnas, TNI Polri, Pemerintah Daerah Provinsi dan maupun Pemerintah Daerah Kabupaten serta instansi terkait membentuk krisis center yang disiapkan di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.

Operasi pencarian terpadu mulai dilakukan pada Minggu 18 Januari, pukul 06.15 WITA dengan mengerahkan drone milik TNI Angkatan Udara di wilayah Gunung Balu Saraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep. 

Padahari itu juga, tepatnya pukul 07.46 WITA, tim SAR gabungan mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela sebagai penanda awal lokasi kecelakaan. “Selang tiga menit berselang, ditemukan serpihan besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya,” ujar Dudy menjelaskan.

Sedangkan Post Komando Crisis Center Basarnas menerima laporan penemuan satu jenazah berjenis kelamin laki-laki dan segera dievakuasi. Selain itu Kemenhub  bersama Ketua Basarnas menggelar rapat koordinasi dengan seluruh aparat yang terkait untuk memonitor pelaksanaan dari operasi SAR yang dipimpin oleh Basarnas.

Dudy menjelaskan pada Senin 19 Januari seluruh pihak yang terkait dengan SAR menggelar koordinasi ulang di lokasi Posko yang berada di ujung lokasi terdekat daripada tempat kejadian, yaitu di Kecamatan Baloci, Kabupaten Pangkajene, Sulawesi Selatan.

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI Arifaini Nur Dwiyanto mengerahkan Helikopter H225M Caracal H-2213 dan Boeing 737-200 dari Skadron Udara 5, setelah titik jatuh Pesawat ATR 42-500 ditemukan. Selain itu menurunkan lima prajurit Korpasgat dan satu personel Basarnas ke titik lokasi musibah untuk menyiapkan langkah awal proses evakuasi.

 “Seluruh kemampuan yang kami miliki akan kami kerahkan secara maksimal, baik melalui unsur udara maupun personel di lapangan, dengan tetap mengutamakan keselamatan dan sinergi bersama seluruh instansi terkait,” ujar Arifaini Nur Dwiyanto.

Menurut dia, operasi pencarian dan evakuasi akan terus dilaksanakan secara terpadu dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, medan, serta perkembangan informasi terbaru dari posko gabungan.

Selain unsur udara, TNI AU juga mengerahkan puluhan personel dari Yon Parako 473 Korpasgat, Divisi Arhanud Korpasgat, Lanud Sultan Hasanuddin untuk memperkuat tim gabungan yang terdiri atas Polres Maros, Kodim 1422/Maros, serta Basarnas. Seluruh unsur itu sebelumnya merapat ke Posko Lapangan di daerah Bantimurung untuk koordinasi intensif dan mempercepat proses pencarian.

Pada Senin 19 Januari Tim SAR Gabungan berhasil mengindentifikasi dua jenazah korban pesawat ATR 42-500 jatuh. Masing-masing jenazah berjenis kelamin perempuan atas nama Florencia Lolita Wibison yang merupakan pramugari pesawat ATR 42-500.

"Jenazah dengan nomor postmortem 62B.01 cocok dengan antemortem nomor AM004 teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibosono, jenis kelamin perempuan, umur 33 tahun," kata Kabiddokkes Polda Sulsel, Kombes Muhammad Haris.

Jenazah korban berhasil teridentifikasi melalui sidik jari, data gigi, properti, dan ciri medis. Jenazah Florencia telah diserahkan kepada pihak keluarga dan diterbangkan ke Jakarta pada Rabu, 21 Januari 2026.

Selain jenazah Florencia, Tim DVI juga berhasil mengidentifikasi satu jenazah korban lainnya yang ditemukan Tim SAR gabungan pada Minggu 18 Janurai 2026. Jenazah korban tersebut diketahui berjenis kelamin laki-laki atas nama Deden Maulana tercatat pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jenazah Deden dijadwalkan diterbangkan dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju Jakarta pada Kamis 22 Januari 2026) pagi.

Melibatkan Pencari Madu

Temuan dua jenazah itu masih menyisakan delapan orang, masing-masing awak kabin dan penumpang pesawat ATR 42-500.  Proses pencarian oleh Tim SAR gabungan menghadapi kesulitan selain intensitas hujan besar juga medan terjal. Komandan Korem 141/Toddopuli Brigjen Andre Clift Rumbayan mengatakan, tim sebelumnya mengevakuasi jenazah kini melanjutkan pencarian korban di titik-titik lain. Upaya pencarian diperluas dengan menambah sektor baru di sekitar bagian ekor pesawat yang diduga masih menyimpan petunjuk penting terkait keberadaan korban lainnya.

"Kita akan menambah satu sektor pencarian di bagian ekor pesawat. Selama ini kita masih fokus pada lokasi jenazah, sekarang kita mulai masuk ke area ekor," kata Rumbayan.

Kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan. Hujan dan badai yang terjadi sejak malam hari membuat jalur semakin licin dan berbahaya. Meski demikian, sejumlah personel tetap bertahan di sekitar lokasi untuk mempercepat proses pencarian saat kondisi memungkinkan.

"Sejumlah personel bahkan telah bermalam di lokasi dan bersiaga sejak malam demi memanfaatkan waktu terang yang terbatas," ujar Rumbayan menambahkan.

Dalam proses pencarian, tim SAR gabungan telah melakukan pemetaan area dan menerapkan pola pencarian secara sistematis. Metode yang digunakan memperluas pencarian dari titik awal, kemudian menyempit kembali berdasarkan temuan di lapangan.  Namun, strategi ini harus disesuaikan dengan kontur wilayah yang didominasi jurang dan tebing curam.

"Medannya bukan datar, tetapi jurang. Meski demikian, kita tetap berupaya maksimal agar keluarga korban segera mendapatkan kepastian," katanya.

Pencarian korban juga melibatkan masyarakat setempat, yakni para pencari madu yang terbiasa melewati jalur-jalur ekstrem Gunung Bulusaraung, tempat lebah hutan biasanya bersarang. Lokasi penemuan korban pun bukan jalur yang biasa dilintasi warga dan pendaki.

Koordinator pencari lebah hutan, Mursalim Yunus, mengatakan ada 19 warga lokal yang sehari-hari pencari madu hutan bergabung di antara ratusan tim SAR gabungan. Mereka dilibatkan untuk menyusuri area jatuhnya pesawat ATR 42-500 yang mengangkut tujuh kru dan tiga penumpang yang tak pernah menjadi jalur pendakian umum.

“Lerengnya terjal dengan tebing curam di hampir setiap sisi, tempat rumput dan bebatuan menjadi satu-satunya pegangan,” ujar Mursalim dikutip dari laman sinarharapan.co.

Mursalim bersama anggotanya para pencari madu berperan sebagai penunjuk jalur, membuka akses bagi ratusan tim pencari yang diturunkan Basarnas.  “Pengalaman keluar masuk hutan inilah yang kami harapkan bisa membantu proses pencarian,” ujar Mursalim menambahkan.

Untuk menembus kawasan tersebut, tim dibagi menjadi lima kelompok kecil. Setiap kelompok dipandu penunjuk jalur yang memahami kontur tanah, arah tebing, dan jalur sempit yang masih memungkinkan dilalui dengan relatif aman.

Dua orang lainnya disiagakan di titik pantau, bertugas mengamati pergerakan tim dan menjadi penghubung di tengah kondisi komunikasi yang terbatas.  Seluruh upaya pencarian masih mengandalkan tenaga manusia. Tidak ada akses kendaraan, tidak pula alat berat. Pelibatan warga lokal ini membuat metode pencarian berubah, bukan lagi dengan jalur pendakian ke puncak gunung, melainkan dengan penyusuran melingkar.

Misteri Data Smartwatch Kopilot

Selama proses pencarian korban dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 muncul kesaksian data langkah kaki yang terekam di smartwatch milik kopilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan. Dalam sebuah pernyataan seoarang kerabat menyebutkan ponsel milik Farhan yang sebelumnya ditemukan di antara puing-puing pesawat, menunjukkan ada pergerakan langkah melalui smartwatch-. jam tangan Farhan yang tersambung dengan ponselnya.

Pernyataan itu muncul dari seorang perempuan bernama Pitri Kendedes Hasibuan, kakak Dian Mulyana Hasibuan yang merupakan pacar dari Farhan. Dalam pernyataanya yang dikutip dari kumparan.com Pitri mengatakan handphone Farhan ditemukan di hutan yang diserahkan ke adiknya, Dian.

Namun saat Dian membuka handphone Farhan dan menunjukkan ada pergerakan smartwatch yang terhubung dengan handphone. "Ponsel Farhan ada sama adik saya. Dan saat dibuka, aplikasi smartwatch-nya tampak ada pergerakan. Langkah bertambah," kata Pitri.

Ia menjelaskan, pesawat ATR jatuh pada Sabtu 17 Januar 2026 siang. Pada hari Minggu 18 Januari,  handphone Farhan yang ditemukan tim SAR sudah diserahkan ke Dian.  Namun sekitar pukul 06.53 WITA, notifikasi smartwatch menunjukkan ada pergerakan kaki sekitar 9.013 langkah dan terus bertambah pada siang harinya.

"Dicek smartwatch-nya itu ternyata ada pergerakan langkah kaki Farhan dari pagi jam 6 ada berapa langkah terus ditambah lagi jam 10 sampe malam juga ada,"  katanya.

Temuan pergerakan samratwatch milik salah satu kobran itu dibantah Basarnas yang memastikan data tersebut bukan berasal dari waktu setelah kecelakaan pesawat, namun rekaman lama saat korban masih beraktivitas beberapa bulan sebelumnya.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syafi’i menjelaskan, klarifikasi itu dilakukan setelah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan memeriksa terhadap data yang terhubung ke ponsel korban.

“Terkait dengan pergerakan yang dari smartphone, kami sudah dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan. Setelah dibuka, ternyata rekaman itu dari beberapa bulan yang lalu, waktu korban masih berada di Jogja,” ujar Syafi’i usai rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 20 Januari 2026.

Syafi’i menegaskan, informasi tersebut telah disampaikan langsung kepada keluarga korban dan dinyatakan selesai atau tidak lagi menimbulkan keraguan. “Dan itu sudah di-clear-kan tadi pagi,” ujar Syafi’i menambahkan.

Meski spekulasi mengenai data smartwatch telah diluruskan, Basarnas menegaskan upaya pencarian korban kecelakaan ATR 42-500 tetap dilakukan secara maksimal. Ia menyebut berbagai unsur dan armada telah dikerahkan, meski masih terkendala cuaca ekstrem.

“Kami sudah mengerahkan banyak pesawat, ada pesawat Boeing, tiga helikopter, dan kita juga modifikasi cuaca. Mudah-mudahan cuaca segera membaik. Mohon doanya,”  katanya. (*)

BERITALAINNYA
BERITATERKINI