Putri Gus Dur Tekankan Pelayanan Haji Khusus Lansia Harus Diutamakan

Laporan: Bayu Primanda
Selasa, 20 Januari 2026 | 19:51 WIB
Alissa Wahid (Sinpo.id)
Alissa Wahid (Sinpo.id)

SinPo.id -  Aktivis perempuan Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid yang juga merupakan putri dari Presiden RI ke-3, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menekankan pelayanan haji untuk lansia.

Ia memaparkan secara rinci dinamika tantangan yang dihadapi jemaah haji lansia dan perempuan, mulai dari persoalan fisik, psikologis, hingga keterbatasan layanan.
 
Hal itu disampaikannya saat mengisi materi pada Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.
 
Alissa menjelaskan bahwa jemaah lansia menghadapi tantangan berlapis. Pertama adalah tantangan yang secara alami melekat pada usia lanjut, seperti penurunan daya tahan fisik, ingatan, dan emosi.
 
Tantangan berikutnya muncul ketika lansia berada di Arab Saudi dengan kondisi cuaca ekstrem, kepadatan jemaah, serta ritme ibadah yang berat.

Selain itu, Alissa menyoroti adanya kesenjangan penguasaan teknologi yang semakin terasa, terutama dalam penggunaan aplikasi layanan haji, kartu digital, hingga sistem informasi berbasis gawai.

“Bagi lansia, tantangan itu berlapis. Bukan hanya soal usia, tetapi juga adaptasi dengan lingkungan baru di Arab Saudi dan gap teknologi yang sering membuat mereka kebingungan,” ujar Alissa.

Sementara itu, Alissa menegaskan bahwa jemaah perempuan menghadapi tantangan yang tidak kalah kompleks.
 
Perempuan, menurutnya, memiliki kebutuhan spesifik yang berkaitan dengan siklus reproduksi, kondisi fisik, serta kebutuhan pendampingan ibadah yang berbeda dengan laki-laki.
 
Ia menyebut, jemaah perempuan membutuhkan perhatian khusus terkait perlengkapan ibadah dan kesehatan, pendampingan fisik saat kelelahan, serta pendamping ibadah yang memahami kondisi perempuan secara utuh.
 
Namun, Alissa menilai tantangan terbesar saat ini adalah layanan haji yang belum sepenuhnya ramah perempuan.

“Kita masih menghadapi keterbatasan jumlah pendamping perempuan, fasilitas yang belum sepenuhnya sensitif gender, termasuk jumlah kamar mandi dan WC, hingga persoalan perlengkapan yang harus dibawa sendiri oleh jemaah perempuan,” jelasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI