Trump Ancam Tarif 10% ke Inggris, Ekonom: Risiko Resesi Mengintai
SinPo.id - Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mengancam menaikkan tarif impor sebesar 10% terhadap Inggris dan beberapa negara Eropa berpotensi memberikan dampak besar bagi ekonomi Inggris, bahkan bisa mendorong negara itu ke jurang resesi, kata para ekonom.
Ancaman ini terkait rencana Trump untuk membeli Greenland dari Denmark, yang akan diterapkan mulai 1 Juni, dan bisa meningkat menjadi 25% hingga tercapai kesepakatan. Negara-negara Eropa terdampak antara lain UK, Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Finlandia.
Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menegaskan pemerintah akan membahas langsung kebijakan ini dengan pemerintahan AS. “Menerapkan tarif pada sekutu untuk tujuan keamanan kolektif NATO adalah langkah yang salah,” ujar Starmer.
Tarif ini akan menyasar ekspor Inggris ke AS seperti mobil, mesin, obat-obatan, logam non-ferrous, alat ilmiah, dan bahan kimia organik. Menurut Office for National Statistics (ONS), total ekspor Inggris ke AS dalam 12 bulan hingga November 2025 mencapai miliaran poundsterling, termasuk £27,8 miliar mesin dan peralatan transportasi, £16,7 miliar mobil, dan £14,3 miliar bahan kimia.
Ekonom menilai tarif tambahan akan membuat produk Inggris lebih mahal dan kurang kompetitif, sehingga menekan permintaan dan kinerja perdagangan. William Bain, Kepala Kebijakan Perdagangan British Chamber of Commerce, menyebut hal ini sebagai “berita buruk bagi eksportir Inggris yang sebelumnya sudah terdampak tarif.”
Marco Forgione, Direktur Jenderal Institute of Export and International Trade, menambahkan: “Dampaknya akan sangat besar, bahkan bisa mendorong Inggris ke resesi, terutama di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih lemah.”
Selain Inggris, Trump sebelumnya juga mengancam China dengan tarif hingga 145% terkait kontrol ekspor logam tanah jarang. Para ekonom menekankan, ketegangan perdagangan seperti ini meningkatkan risiko volatilitas ekonomi global.
