Mentan Terapkan Skema Padat Karya untuk Pulihkan Sawah Terdampak Bencana

Laporan: Sigit Nuryadin
Sabtu, 17 Januari 2026 | 22:52 WIB
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman. (SinPo.id/Ashar)
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman. (SinPo.id/Ashar)

SinPo.id -  Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah menerapkan skema padat karya dalam pemulihan lahan sawah yang terdampak bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga produksi pangan nasional sekaligus memastikan petani tetap memperoleh penghasilan selama masa rehabilitasi.

“Melalui skema ini, petani tidak hanya memulihkan lahan pertanian, tetapi juga memperoleh pendapatan selama proses pemulihan berlangsung,” kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Sabtu, 17 Januari 2026.

Amran menegaskan, sawah-sawah yang rusak di ketiga provinsi tersebut akan diperbaiki dengan melibatkan langsung pemilik lahan. Menurutnya, para petani mengerjakan pemulihan di sawah masing-masing, sementara seluruh biaya ditanggung oleh pemerintah pusat.

“Jadi saudara kita punya pendapatan, sementara benih dibantu gratis, pengolahan tanah, perbaikan irigasi semuanya dibantu pusat. Ini perintah langsung Bapak Presiden,” tuturnya. 

Menurut Amran, pendekatan padat karya membuat seluruh pemilik sawah terlibat aktif dalam rehabilitasi. Dia menyebut, mereka bekerja di lahan sendiri dan memperoleh upah harian yang mencukupi kebutuhan keluarga.

“Pendapatan hariannya cukup untuk harian, bekerja di sawahnya sendiri. Sementara pengolahan tanah, benih, dan irigasi ditanggung pemerintah pusat,” ujar Amran. 

Di Aceh, pemerintah merehabilitasi sekitar 10 ribu hektare sawah dengan kebutuhan tenaga kerja mencapai 200 ribu hari orang kerja (HOK) yang dibayarkan secara harian. Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah menargetkan perbaikan lahan dengan kategori rusak ringan hingga sedang dapat diselesaikan maksimal dalam waktu tiga bulan.

“Khusus Aceh, bersamaan dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang ringan dan sedang maksimal tiga bulan sudah selesai,” ujar Amran.

Adapun berdasarkan data Kementerian Pertanian, total kerusakan lahan sawah akibat bencana di tiga provinsi tersebut mencapai 98.002 hektare. Aceh menjadi wilayah dengan kerusakan terluas, yakni 54.233 hektare di 21 kabupaten/kota. Sementara itu, Sumatera Utara mencatat kerusakan 37.318 hektare di 15 kabupaten/kota dan Sumatera Barat 6.451 hektare di 14 kabupaten/kota.

Dari total tersebut, kerusakan dengan kategori ringan hingga sedang mencapai 69.240 hektare, terdiri atas 48.969 hektare rusak ringan dan 20.271 hektare rusak sedang. Rinciannya, Aceh seluas 32.652 hektare, Sumatera Utara 32.964 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare. Di Kabupaten Aceh Utara, luas kerusakan ringan hingga sedang tercatat 8.237 hektare.

Amran menambahkan, Kementerian Pertanian memprioritaskan rehabilitasi lahan dengan kategori ringan dan sedang. Dia menargetkan, hahap pengerjaan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026, dengan target luas rehabilitasi di tiga provinsi mencapai 13.708 hektare.

“Kami mulai dari yang ringan dan sedang, baru terakhir yang berat. Sekitar 90 sampai 95 persen akan kami selesaikan lebih dulu,” tandasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI