Transjakarta Evaluasi Sistem Keamanan Koridor Usai Insiden Asusila di Bus
SinPo.id - Manajemen PT Transportasi Jakarta menyatakan tengah mengevaluasi sistem pengamanan di seluruh koridor layanan menyusul viralnya video dugaan tindakan asusila di salah satu armada bus Transjakarta. Peristiwa tersebut dinilai menunjukkan celah pengawasan di dalam kendaraan saat jam sibuk.
Kepala Departemen Humas dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Transjakarta, Ayu Wardhani, mengatakan perusahaan sedang meninjau ulang pola pengawasan petugas di dalam dan sekitar bus, termasuk efektivitas kamera pengawas.
“Kami melakukan evaluasi menyeluruh, bukan hanya pada individu pelaku, tetapi juga pada sistem yang seharusnya mampu mencegah kejadian seperti ini,” ujar Ayu dalam keterangannya, Jumat, 16 Januari 2026.
Adapun insiden tersebut terjadi di bus koridor 1A rute Balai Kota–Pantai Maju pada Kamis, 15 Januari. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang pria diduga melakukan masturbasi di dalam bus yang dipadati penumpang. Video itu pun menuai kecaman publik dan memicu pertanyaan soal keamanan transportasi umum.
Menurut Ayu, pelaku telah diamankan aparat kepolisian dan kasusnya ditangani Polres Metro Jakarta Utara. Transjakarta, kata dia, berkoordinasi dengan kepolisian untuk memastikan proses hukum berjalan.
“Kami menyerahkan sepenuhnya penanganan pelaku kepada aparat. Fokus kami sekarang adalah memastikan kejadian serupa tidak terulang,” tutur dia.
Lebih lanjut, dia mengakui, peristiwa tersebut berdampak pada rasa aman penumpang, terutama perempuan. Karena itu, lanjutnya, perusahaan berencana memperketat patroli petugas di jam rawan serta meningkatkan respons cepat terhadap laporan penumpang.
“Keamanan penumpang adalah fondasi layanan. Ketika ada satu kejadian saja, itu menjadi alarm bagi kami,” ujar Ayu.
Ayu menambahkan, Transjakarta juga mendorong penumpang agar lebih aktif melaporkan tindakan mencurigakan melalui petugas di lapangan maupun pusat layanan pelanggan.
Dia menyebutkan, laporan dari penumpang kerap menjadi faktor penentu dalam menghentikan gangguan keamanan di dalam bus.
“Tanpa keberanian penumpang bersuara, banyak kejadian bisa luput dari perhatian,” tandasnya.
