Iran Ancam AS dan Israel Jadi Target Sah Jika Trump Serang

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 12 Januari 2026 | 07:55 WIB
Aksi unjuk rasa di Iran (SinPo.id/ Dok.Al Jazeera)
Aksi unjuk rasa di Iran (SinPo.id/ Dok.Al Jazeera)

SinPo.id -  Iran memperingatkan Amerika Serikat dan Israel dapat menjadi “target sah” jika Presiden Donald Trump benar-benar melancarkan serangan terhadap Republik Islam. Ancaman itu disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, di tengah sorakan “Death to America!” dari para anggota parlemen, Minggu 11 Januari 2026

“Dalam hal terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) dan seluruh pusat militer, pangkalan, serta kapal Amerika di kawasan akan menjadi target sah kami,” tegas Qalibaf dalam siaran langsung televisi negara.

Peringatan keras ini muncul di tengah gelombang protes nasional menentang teokrasi Iran yang memasuki pekan kedua. Demonstrasi besar terjadi di Teheran dan Mashhad, dengan laporan sedikitnya 116 orang tewas dan sekitar 2.600 orang ditahan, menurut Human Rights Activists News Agency berbasis AS.

Krisis dan Ancaman Perang

Trump sebelumnya mengancam akan “menghantam keras” rezim Iran jika terjadi kekerasan terhadap demonstran. Ia juga menyatakan dukungan bagi rakyat Iran melalui media sosial:

“Iran sedang melihat KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah sebelumnya. AS siap membantu!” tulis Trump.

Media AS melaporkan Trump telah menerima opsi militer untuk menyerang Iran, meski belum membuat keputusan final. Departemen Luar Negeri AS memperingatkan: “Jangan main-main dengan Presiden Trump. Ketika ia mengatakan akan melakukan sesuatu, ia akan melakukannya.”

Di sisi lain, Qalibaf memuji kepolisian, Garda Revolusi, dan pasukan Basij atas keteguhan mereka menghadapi demonstrasi. Ia juga menegaskan bahwa para demonstran akan ditindak tegas.

Protes dan Represi

Protes di Teheran ditandai dengan aksi massa membawa ponsel menyala, dentuman benda logam, serta kembang api di langit. Di Mashhad, bentrokan dengan aparat meninggalkan puing-puing terbakar di jalan. Pemerintah menutup akses internet dan sambungan telepon internasional, menyulitkan pemantauan dari luar negeri.

Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, bahkan menyatakan demonstran akan dicap sebagai “musuh Tuhan”, sebuah tuduhan yang dapat berujung hukuman mati.

Ketegangan Regional

AS memastikan pasukannya di Timur Tengah tetap siaga penuh untuk melindungi kepentingan dan sekutu. Armada ke-5 Angkatan Laut AS beroperasi dari Bahrain, sementara pangkalan Al Udeid di Qatar pernah menjadi sasaran serangan Iran tahun lalu.

Meski ancaman perang dilontarkan, keputusan akhir tetap berada di tangan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang berusia 86 tahun. Dunia kini menyoroti apakah krisis ini akan memicu eskalasi besar yang berpotensi menyeret kawasan ke jurang konflik global.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI