Home /

Legislator DKI Ingatkan Risiko Privatisasi soal Target Air Bersih 100 Persen PAM Jaya

Laporan: Sigit Nuryadin
Sabtu, 10 Januari 2026 | 22:11 WIB
Ilustrasi DPRD DKI Jakarta. (SinPo.id/Berita Nasional)
Ilustrasi DPRD DKI Jakarta. (SinPo.id/Berita Nasional)

SinPo.id - Anggota DPRD DKI, Muhammad Al Fatih mengingatkan Pemerintah Provinsi Jakarta agar rencana percepatan layanan air bersih PAM Jaya tidak berujung pada praktik privatisasi yang merugikan warga. Hal itu disampaikan di tengah target ambisius cakupan layanan air bersih 100 persen pada 2029.

Menurut Al Fatih, perubahan status PAM Jaya dari Perusahaan Umum Daerah menjadi Perseroan Daerah memang membuka peluang pembiayaan proyek yang lebih luas. Namun, dia menegaskan langkah tersebut harus disertai pengawasan ketat dari pemerintah daerah.

“Air itu kebutuhan dasar. Jangan sampai karena mengejar target dan pendanaan, kendali pemerintah melemah, terutama dalam soal tarif,” kata Al Fatih, Sabtu, 10 Januari 2026.

Dia menilai ekspansi jaringan air bersih berskala besar tak terelakkan untuk menutup wilayah yang selama ini belum terlayani. Al Fatih menyebut, pembangunan infrastruktur baru, termasuk sentra pelayanan PAM Jaya, sebagai bagian dari strategi jangka panjang memenuhi kebutuhan air warga Jakarta.

Namun, dia meminta agar orientasi bisnis tidak menggeser fungsi pelayanan publik. Al Fatih menekankan Pemprov DKI harus tetap menjadi pengendali utama kebijakan air bersih, termasuk memastikan harga air tetap terjangkau.

“Target 100 persen itu penting, tapi jangan sampai masyarakat justru terbebani,” tuturnya. 

Di sisi lain, dia mendorong percepatan proyek pipanisasi PAM Jaya meski berdampak pada kemacetan akibat galian jalan di sejumlah titik. Menurutnya, gangguan tersebut merupakan konsekuensi pembangunan infrastruktur dasar.

“Saya turun langsung ke lapangan. Ini memang pekerjaan besar yang mau tidak mau harus dijalani demi kepentingan jangka panjang,” ujar Al Fatih. 

Al Fatih juga menyoroti persoalan lama seperti kebocoran pipa yang kerap menghambat distribusi air. Dia berharap modernisasi sistem dan digitalisasi layanan dapat menekan masalah tersebut seiring dengan perluasan jaringan.

“Kalau mau bicara layanan 100 persen, kebocoran dan efisiensi juga harus dibereskan,” tandasnya. 

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI