Dalih Menangkap Presiden Maduro

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 09 Januari 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id

Trump secara terang-terangan menyebut minyak sebagai alasan strategis. Setelah serangan, ia tegas menyebut ingin perusahaan AS menginvestasikan miliaran dolar ke minyak Venezuela.

SinPo.id - Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditangkap oleh tentara Amerika Serikat dalam operasi yang dinamakan "Absolute Resolve", pada Sabtu, 3 Januari dini hari.  Sejumlah sumber menyebutkan penangkapan salah satu kepala negara di Amerika Selatan itu sudah direncanakan intelijen berbulan-bulan sebelumnya.

Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine menyebutkan pasukan khusus telah berlatih sejak awal Desember, bukan hanya untuk memastikan keberhasilan, tetapi untuk menihilkan kesalahan dalam penangkapan itu.

"Selama beberapa pekan menjelang Natal dan Tahun Baru, para pria dan perempuan di militer Amerika Serikat duduk bersiap, dengan sabar menunggu pemicu yang tepat terpenuhi dan presiden memerintahkan kami untuk bertindak," kata Jenderal Dan Caine, dikutip dari Laporan AP News.

Sebelum serangan pasukan AS ke Venezuela berlangsung, Presiden Trump memerintahkan spionase Central Intelligence Agency (CIA) melakukan operasi rahasia di Venezuela.

Dalam wawancara dengan Fox Corporation melalui program "Fox & Friends Weekend", mengatakan pasukan AS bahkan membangun replika rumah yang identik dengan kediaman Maduro untuk latihan simulasi.

“Pasukan tersebut juga dilengkapi dengan alat pemotong baja berat (massive blowtorches) untuk mengantisipasi jika mereka harus menembus dinding ruang penyelamatan diri,” ujar Trump dikutip dari BBC News Indonesia.

Trump juga memantau langsung operasi  penangkapan Maduro, ia dikelilingi para penasehatnya di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida. Ia  didampingi Direktur CIA John Ratcliffe dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

"Sungguh luar biasa untuk disaksikan," kata Trump pada hari Sabtu, usai penangkapan.

Trum menyebut penangkapan terhadap Maduro seperti sedang menonton acara televisi. “Dan jika Anda melihat kecepatannya, kekerasannya… itu sungguh menakjubkan, pekerjaan luar biasa yang dilakukan orang-orang ini," ujar Trump merujuk aksi yang dilakukan agen CIA itu.

Amerika serikat berdalih penangkapan Maduro terkait perdagangan narkoba dan terorisme. Hal itu mengacu dokumen dakwaan pengadilan federal New York yang menyebutkan Maduro dituduh memimpin "pemerintahan korup dan tidak sah" yang didanai oleh operasi perdagangan narkoba.

Dikutip dari AP News, Maduro menghadapi empat dakwaan utama yakni konspirasi narko-terorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata mesin, dan konspirasi penggunaan perangkat destruktif.

“Pihak berwenang AS menuduh Maduro memfasilitasi pengiriman ribuan ton kokain ke Amerika Serikat untuk keuntungan pribadi dan rezimnya,” tulis laporan itu.

Dakwaan tidak hanya berhenti pada Maduro, tetapi juga menyeret lingkaran terdekatnya, termasuk istrinya, Cilia Flores yang dituduh menerima suap ratusan ribu dolar pada tahun 2007 untuk mengatur pertemuan antara bandar narkoba besar dan kepala Badan Anti-Narkoba Venezuela.

Keluarga Maduro diduga memberikan perlindungan penegakan hukum dan dukungan logistik bagi kartel yang memindahkan narkoba melalui wilayah Venezuela.

“Korupsi ini disebut memungkinkan hingga 250 ton kokain diselundupkan melalui Venezuela setiap tahunnya pada 2020,” tulis laporan itu lebih lanjut.

Tak hanya itu, AS di bawah Presiden Trump menuduh Maduro bermitra dengan organisasi kriminal kejam seperti Kartel Sinaloa dan geng Tren de Aragua. Maduro dinilai menggunakan geng itu untuk meneror komunitas, termasuk tuduhan mengirim mereka ke wilayah AS.

Namun, laporan Al Jazeera mencatat bahwa penilaian intelijen AS pada April lalu justru menemukan fakta berbeda. Laporan intelijen tersebut menyatakan tidak ada koordinasi langsung antara pemerintah Venezuela dan geng Tren de Aragua, meskipun lingkungan hukum di sana memang permisif.

Menuai Reaksi

Tak lama operasi berlangsung - yang juga melibatkan penangkapan istri Maduro, Cilia Flores - Menteri Luar Negeri Rubio mulai memberitahu anggota kongres tentang aksi tersebut. Keputusan yang sejak itu memicu kemarahan dari beberapa anggota kongres.

"Biarkan saya jelaskan: Nicolas Maduro adalah diktator yang tidak sah. Namun, melancarkan aksi militer tanpa persetujuan Kongres dan tanpa rencana yang kredibel untuk langkah selanjutnya adalah tindakan ceroboh," kata Chuck Schumer, pemimpin Partai Demokrat di Senat.

Mengeluarkan pemberitahuan kepada Kongres sebelumnya akan membahayakan misi tersebut, kata Rubio kepada wartawan selama konferensi pers pada Sabtu. "Kongres cenderung bocor," tambah Trump. "Ini tidak akan baik."

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam sebuah pernyataan mengatakan, ia "sangat prihatin" dengan operasi militer AS di Venezuela, dan menambahkan bahwa hal itu memiliki "implikasi yang mengkhawatirkan bagi kawasan tersebut".

"Terlepas dari situasi di Venezuela, perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya," kata pernyataan itu.

PBB akan menekankan pentingnya penghormatan penuh - oleh semua pihak - terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB. Antonio sangat prihatin bahwa aturan hukum internasional belum dihormati.  Ia juga menyerukan Venezuela untuk terlibat dalam "dialog inklusif" dengan menghormati hak asasi manusia dan supremasi hukum. Pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB telah diminta oleh oleh Kolombia dengan dukungan Rusia dan China.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, menyerukan agar seluruh negara menjunjung tinggi hukum internasional terkait penangkapan  Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Starmer menyebut situasi tersebut sebagai “sangat cepat berubah” dan menegaskan bahwa Inggris tidak terlibat sama sekali dalam operasi militer Amerika Serikat di Venezuela. Ia meminta semua pihak bersabar sembari menunggu kejelasan fakta di lapangan.

“Saya ingin berbicara dengan Presiden Trump, saya ingin berbicara dengan para sekutu. Saya bisa menyampaikan dengan sangat jelas bahwa kami tidak terlibat dalam hal ini. Dan seperti yang selalu saya katakan, kita semua harus menjunjung hukum internasional,” kata Starmer dalam pernyataan .

Meski Pemerintah Inggris hingga kini belum mengakui hasil pemilu Venezuela 2024 yang kembali mengantarkan Maduro ke kursi presiden untuk masa jabatan ketiga, dan sebelumnya mendorong transisi kekuasaan secara damai dan melalui negosiasi.

Pasca peristiwa tersebut, fokus utama pemerintah Inggris adalah keamanan sekitar 500 warga negara Inggris yang diperkirakan berada di Venezuela.

“Kami bekerja sama dengan Kedutaan Besar Inggris untuk memastikan mereka terlindungi, aman, dan mendapatkan arahan yang tepat,” ujar Starmer.

Motif Lain di Balik Penangkapan Maduro

Belakangan sejumlah pengamat mengaitkan operasi militer Trump berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan ambisi energi Washington.  Panalis dari Third Bridge, eter McNally, menyebut Trump ingin membuka kembali akses perusahaan minyak AS ke Venezuela, negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.  Mac Nally mengutip data OPEC yang menyebut Venezuela tercatat memiliki cadangan terbukti sekitar 303,2 miliar barel. Cadangan itu melampaui Arab Saudi di posisi kedua dengan 267 miliar barel, sedanagkan Iran di posisi ketiga dengan 209 miliar barel, Irak di posisi keempat dengan 209 miliar barel.

Sedangkan Venezuela hanya memproduksi sekitar 1 juta barel per hari. Angka tersebut jauh di bawah level 3,5 juta barel per hari pada 1999 ketika Hugo Chavez pertama kali berkuasa. Selain itu minyak Venezuela pernah sangat jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah 350.000 barel per hari pada 2020. Ini saat sanksi keras Trump diberlakukan pada 2019.

"Pengabaian, infrastruktur yang buruk, kurangnya investasi, dan korupsi juga telah mengurangi kapasitas produktif negara," kata McNally, dikutip AFP, Senin 5 Januari 2026.

Di bawah sanksi AS, ekspor minyak Venezuela mayoritas mengalir ke China, diperkirakan mencapai 80 persen. Sering kali minyak sampai ke China melalui jalur tidak langsung via Malaysia atau sebagian kecil lainnya dikirim ke Kuba.

Untuk menghindari embargo, Caracas menggunakan jaringan "kapal tanker hantu" dengan bendera dan rute palsu. Salah satunya, kapal M/T Skipper, dicegat Angkatan Laut AS dalam blokade minyak yang diumumkan bulan lalu, yang membawa lebih dari 1 juta barel minyak Venezuela.

Transaksi minyak juga dilaporkan dilakukan menggunakan mata uang kripto seperti USDT. Ini guna menghindari sistem keuangan berbasis dolar AS.

Trump diketahui memang secara terang-terangan menyebut minyak sebagai alasan strategis. Setelah serangan, ia tegas menyebut ingin perusahaan AS menginvestasikan miliaran dolar ke minyak Venezuela.

"Kita harus dikelilingi oleh negara-negara yang aman dan juga memiliki energi," ujar Trump.

Dalam konferensi pers di Florida ia mengumumkan rencana besar mengambil alih dengan dalih membenahi sektor minyak Venezuela.  Trump menyatakan perusahaan minyak raksasa AS akan menggelontorkan miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang ia sebut rusak parah.

“Kami akan mengerahkan perusahaan minyak terbesar Amerika untuk memperbaiki infrastruktur minyak dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” kata Trump menegaskan.

Trump menegaskan biaya tersebut tidak akan membebani AS karena akan diganti melalui hasil minyak. Ia juga menyatakan Amerika Serikat akan menjual minyak Venezuela ke negara lain sebagai bentuk balasan atas apa yang ia klaim sebagai penyitaan aset minyak AS oleh rezim sosialis Venezuela.

Analis menilai minyak Venezuela yang dikirim ke negara lain dalam status embargo adalah pencurian. Apalagi minyak diekstraksi dengan peralatan AS. "Trump memandang minyak Venezuela yang diekspor di bawah embargo sebagai minyak yang dicuri dari komunitas internasional," kata analis Cite Gestion Private Bank, John Plassard.

Selain faktor ekonomi, AS juga ingin menekan pengaruh China di kawasan Amerika Latin. Sebelumnya China juga dominan di Terusan Panama, yang menjadi rute utama pengiriman minyak Venezuela.

Tercatat harga minyak mentah berjangka WTI malah turun di bawah US$57 per barel pada karena investor menilai implikasi serangan AS terhadap Venezuela dan penangkapan Maduro.

Beberapa analis memperkirakan gangguan yang terbatas, mencatat bahwa Venezuela saat ini memproduksi kurang dari 1 juta barel minyak mentah per hari, yang kurang dari 1 persen dari produksi global. (*)

 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI