Home /

Cegah Penularan Superflu, Anggota DPR: Perlu Adanya Langkah Antisipasi dari Pemerintah

Laporan: Galuh Ratnatika
Rabu, 07 Januari 2026 | 09:34 WIB
Ilustrasi Rapat Paripurna DPR RI. (Ashar/SinPo.id)
Ilustrasi Rapat Paripurna DPR RI. (Ashar/SinPo.id)

SinPo.id - Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa, meminta pemerintah melakukan langkah antisipasi untuk mencegah penularan virus influenza A (H3N2) subklad K atau superflu, tanpa menunggu adanya lonjakan kasus.

Ia pun meminta pemerintah menggencarkan sosialisasi penggunaan masker di ruang publik, mengingat superflu telah dilaporkan menginfeksi sejumlah negara, seperti China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, hingga Indonesia.

“Kami meminta pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, melakukan langkah antisipasi sejak dini. Sosialisasi penggunaan masker di ruang publik sangat penting karena terbukti efektif menekan penularan virus pernapasan, termasuk influenza,” kata Neng Eem, dalam keterangan persnya, dikutip Rabu, 7 Januari 2026.

Menurutnya, mampu mengurangi risiko penularan melalui droplet dan aerosol, terutama di ruang publik yang padat, transportasi umum, fasilitas pelayanan kesehatan, serta area dengan sirkulasi udara terbatas.

Namun, pihaknya juga menyoroti kesiapan fasilitas kesehatan. Ia menilai, pemerintah harus memastikan kesiapan tenaga medis, ketersediaan alat pelindung diri, sistem deteksi dini, hingga mekanisme penanganan pasien untuk mencegah lonjakan kasus.

“Kesiapan faskes menjadi faktor penentu agar kasus tidak melonjak. Ini bukan upaya menakut-nakuti masyarakat, melainkan bentuk perlindungan negara terhadap kesehatan publik,” tegasnya.

Meski demikian, pihaknya juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan waspada dengan disiplin menerapkan langkah pencegahan. Selain penggunaan masker, Neng Eem mendorong imunisasi influenza sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan.

“Imunisasi influenza dapat menurunkan risiko keparahan jika terinfeksi. Penggunaan masker, kesiapan faskes, dan imunisasi harus berjalan bersamaan agar dampak superflu dapat ditekan,” tuturnya.

Diketahui, berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, tercatat 62 kasus superflu di Indonesia yang tersebar di delapan provinsi. Adapun kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. 

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI