Maduro Tiba di Pengadilan AS, Hadapi Dakwaan Narco-Terorisme dan Tuntutan Hukum

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 06 Januari 2026 | 06:52 WIB
Presiden AS Donald Trump membagikan sebuah foto yang diduga Presiden Nicolas Maduro. Trump menyampaikan Maduro sedang dibawa ke AS. (SinPo.id/Istimewa)
Presiden AS Donald Trump membagikan sebuah foto yang diduga Presiden Nicolas Maduro. Trump menyampaikan Maduro sedang dibawa ke AS. (SinPo.id/Istimewa)

SinPo.id -  Mantan Presiden Venezuela yang digulingkan, Nicolás Maduro, dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan Amerika Serikat pada Senin siang waktu setempat. Sidang singkat ini akan menjadi awal dari proses hukum panjang terkait dakwaan narco-terorisme yang digunakan pemerintahan Trump sebagai dasar penangkapannya.

Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, dibawa dari penjara Brooklyn menuju pengadilan Manhattan dengan pengawalan ketat. Proses pemindahan melibatkan motorcade, helikopter melintasi New York Harbor, hingga kendaraan lapis baja yang langsung masuk ke kompleks pengadilan.

Hak dan Strategi Hukum

Sebagai terdakwa, Maduro memiliki hak yang sama dengan warga biasa, termasuk persidangan oleh juri New York. Namun, tim pengacaranya diperkirakan akan menolak legalitas penangkapan dengan alasan imunitas kepala negara. Strategi ini pernah digunakan oleh diktator Panama Manuel Noriega pada 1990, namun gagal karena AS tidak mengakui Maduro sebagai presiden sah Venezuela, terutama setelah pemilu 2024 yang penuh sengketa.

Reaksi Venezuela dan Trump

Presiden interim Venezuela, Delcy Rodríguez, menuntut agar AS mengembalikan Maduro. Meski begitu, ia juga mengisyaratkan nada lebih lunak dengan membuka peluang kerja sama “dengan penuh hormat” bersama Trump. Trump sendiri menegaskan bahwa AS akan “mengendalikan Venezuela sementara waktu,” meski Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan Washington hanya akan menegakkan “karantina minyak” tanpa mengurus pemerintahan sehari-hari.

Indictment dan Tuduhan Berat Indictment setebal 25 halaman menuduh Maduro, istrinya, dan sejumlah pejabat Venezuela bekerja sama dengan kartel narkoba untuk menyelundupkan ribuan ton kokain ke AS.

Maduro dan Flores dituduh memerintahkan penculikan, pemukulan, hingga pembunuhan terhadap pihak yang berutang atau mengganggu operasi narkoba.

Flores disebut menerima ratusan ribu dolar suap pada 2007 untuk mengatur pertemuan antara bandar besar dengan pejabat anti-narkoba Venezuela.

Nama Tren de Aragua, geng kriminal besar, muncul dalam dakwaan, meski laporan intelijen AS April lalu menyatakan tidak ada koordinasi langsung dengan pemerintah Venezuela.

Jika terbukti bersalah, Maduro dan Flores bisa menghadapi hukuman seumur hidup.

Konteks Regional

Penangkapan Maduro memperburuk ketegangan geopolitik di Amerika Latin. Trump bahkan melontarkan ancaman terhadap Presiden Kolombia Gustavo Petro, menyebutnya “sakit” karena membiarkan produksi kokain. Ia juga menuntut Rodríguez memberi “akses penuh” ke Venezuela atau menghadapi konsekuensi.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI